Bagi Anda yang tumbuh besar di tahun 80-an dan 90-an, ada satu suara yang selalu memecah kesunyian sahur: Suara sirine yang meraung panjang melalui radio. Suara“nguuuung” yang khas itu bukan sekadar bunyi bising, melainkan komando bagi jutaan orang untuk segera menghabiskan suapan terakhir. Ya, suara itu adalah tanda waktu imsak.
Imsak adalah waktu peringatan untuk menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa, biasanya ditetapkan sekitar 10 menit sebelum waktu subuh (fajar sidiq). Imsak berfungsi sebagai langkah kehati-hatian (ihtiyath) agar umat Muslim tidak terlambat berhenti makan sahur
Namun, pernahkah Sobat Jadul bertanya-tanya, dari mana asal-usul penggunaan sirine sebagai penanda imsak di Indonesia?
Dari Penanda Bahaya menjadi Penanda Waktu Imsak
Penggunaan sirine di Indonesia sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari infrastruktur peninggalan zaman kolonial Belanda dan masa Perang Dunia II. Dahulu, sirine dipasang di titik-titik strategis kota (seperti menara air atau gedung pemerintahan) sebagai Early Warning System atau tanda bahaya serangan udara (air-raid siren).
Beberapa sirene penimggalan jaman perang tersebut diantaranya berada di Blora berupa Sirine setinggi 15 meter peninggalan Belanda yang berbunyi “nguk” di Alun-Alun, Serunee (sirene) dari masjid di Bireuen yang dimodifikasi dari mobil pemadam kebakaran Jepang dan sirine kereta api zaman Belanda di Masjid Raya di Aceh,
Setelah masa kemerdekaan, fungsi sirine ini mulai dialihkan oleh pemerintah setempat dan pengurus masjid besar untuk kepentingan publik, termasuk sebagai penanda waktu berpuasa.
Sejak sekitar tahun 1970-an atau 1980-an, alat ini mulai digunakan pemerintah daerah sebagai penanda waktu buka puasa (Maghrib) dan imsak (saat sahur).
Peran RRI
Mengapa sirine identik dengan radio di tahun 80-an? Jawabannya adalah karena RRI (Radio Republik Indonesia). Di era itu, televisi belum menjamur dan gadget canggih belum ada. Radio adalah sumber informasi waktu paling akurat.
RRI memutar rekaman sirine yang diikuti dengan suara pengumuman saatnya waktu imsak dan disiarkan ke seluruh pelosok negeri. Kebiasan ini dikkuti juga oleh radio swasta yang mulai menjamur di akhir 80-an hingga 90-an sehingga sura raungannya semakin menggema di mana-mana.
Bagi generasi 80-an, sirine memiliki dampak psikologis yang unik. Saat sirine berbunyi, suasana meja makan yang tenang mendadak jadi riuh. “Ayo cepat, sudah imsak!” adalah kalimat yang paling sering terdengar dari para Ibu.
Memasuki tahun 2000-an hingga sekarang, penggunaan sirine mulai perlahan memudar dan digantikan sholawat atau pesan hikmah yang ditayangkan di televisi, oleh aplikasi smartphone Notifikasi di ponsel kini lebih diandalkan daripada menunggu siaran radio,
Meski sekarang kita sudah tidak lagi mendengar suara sirine yang “mencekam” namun dirindukan itu, memori tentangnya tetap menjadi bagian dari sejarah perkembangan budaya Ramadhan di Indonesia. Sirine adalah saksi bisu betapa sederhananya teknologi masa lalu mampu membangun harmoni dan kesan di bulan suci. (WD)















Discussion about this post