Jika Anda tumbuh besar di era 80-an atau 90-an, pasti familisr dengan suara merdu yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an sebelum azan maghrib, atau di pagi hari melalui radio dan diputar kasetnya di masjid menjelang sholat Jum’at.
Sosok di balik suara yang menyejukkan hati tersebut adalah H. Muammar Zainal Asyikin, atau yang lebih dikenal dengan nama H. Muammar ZA. Beliau adalah seorang Qori (pembaca Al-Qur’an), yang berhasil mempopulerkan seni tilawah hingga ke tingkat internasional.
Sudah berbakat dari kecil
Lahir di Pemalang, Jawa Tengah, pada 14 Juni 1954, Muammar ZA adalah putra ketujuh dari sepuluh bersaudara dari pasangan H. Zainal Asykin dan Hj. Mu’minatul Afifah, yang juga merupakan tokoh agama di desanya
Muammar kecil sudah menunjukkan bakat luar biasa sejak usia dini. Pada usia 7 tahun beliau meraih meraih gelar pertamanya sebagai Juara 1 MTQ Tingkat Anak-Anak di Pemalang pada tahun 1962.
Berlanjut ketika beranjak remaja, Muammar menyabet Juara 1 MTQ Tingkat Remaja Provinsi DIY pada tahun 1967 Saat menempuh pendidikan di Yogyakarta dan menjadi delegasi tetap DIY di ajang nasional selama beberapa tahun.
Puncak kariernya dimulai ketika beliau berhasil menjuarai MTQ Nasional di Banda Aceh 1981 Mewakili DKI Jakarta. Prestasi ini semakin mengukuhkan namanya sebagai qori papan atas Indonesia.
Lalu di tahun yang sama dengan kemenangan nasionalnya, beliau mengharumkan nama bangsa dengan meraih juara pertama di ajang Juara MTQ Internasional yang diadakan di Malaysia.
Khas dengan suara bariton yang stabil, jangkauan nada yang tinggi (high pitch), serta napas yang sangat panjang, beliau menciptakan standar baru dalam seni tilawah di Indonesia. Gaya membacanya yang emosional namun tetap teknis membuatnya dicintai tidak hanya di tanah air, tetapi juga di negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Menyebarkan keindahan bacaan Al-Qur’an lewat kaset
Tahun 80-an adalah era keemasan H. Muammar ZA. Melalui perusahaan rekaman seperti Virgo Ramayana dan Cipta Indah Record , rekaman tilawahnya meledak di pasaran.
Salah satu rekaman paling populer adalah saat beliau berduet dengan H. Chumaidi. Harmonisasi suara mereka dalam melantunkan ayat suci dianggap sebagai salah satu karya seni religi terbaik sepanjang masa.

Kasetnya menjadi best seller dan seringkali dijadikan “backsound” wajib di berbagai masjid, musholla, hingga rumah-rumah warga saat menjelang waktu shalat atau perayaan hari besar Islam.
Sebelum era YouTube dan aplikasi streaming, H. Muammar ZA adalah pionir yang membuktikan bahwa keindahan bacaan Al-Qur’an bisa menjadi media dakwah yang sangat efektif secara masif.
Untuk melanjutkan misi dakwahnya tersebut, beliau mendirikan Pondok Pesantren Ummul Qura di Cipondoh, Tangerang, untuk mencetak generasi penerus yang mampu menjaga kelestarian seni tilawah Al-Qur’an di Indonesia.
Meski kini telah banyak muncul qori-qori muda dengan gaya baru, teknik pernapasan perut dan cengkok khas Muammar ZA tetap menjadi referensi utama di berbagai pesantren. Beliau membuktikan bahwa seni membaca Al-Qur’an adalah perpaduan antara ketaatan pada hukum tajwid dan ekspresi jiwa yang jujur.
Sumber video: YouTube Radin Channel














Discussion about this post