Pernahkah Anda tiba-tiba merasa rindu yang mendalam saat mencium aroma buku lama, mendengar lagu pop tahun 70-an, 80-an atau 90-an sesuai dengan dekade mana anda dilahirkan, atau sekadar melihat kemasan makanan ringan yang populer di masa kecil?
Perasaan ini disebut nostalgia. Dulu, para ahli medis menganggap nostalgia sebagai gangguan mental atau bentuk “depresi” yang ekstrem. Namun sekarang, psikologi modern memandangnya sebagai alat kesehatan mental yang luar biasa kuat.
Ada berbagai alasan mengapa kita begitu sering ingin kembali “pulang” ke masa lalu. Diantaranya dikarenakan dunia dewasa penuh dengan ketidakpastian: tagihan, tekanan kerja, dan dinamika hubungan yang rumit. Nostalgia berfungsi sebagai “tempat perlindungan mental”.
Saat kita bernostalgia, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa nyaman. Mengingat masa kecil yang (tampaknya) tanpa beban membantu menurunkan tingkat kecemasan saat ini. Aktifitas seperti merupakan mekanisme Pertahanan Terhadap Stres (Coping Mechanism)
Seiring bertambahnya usia, kita sering merasa kehilangan jati diri karena perubahan peran hidup. Masa kecil merupakan titik awal siapa kita sedangkan masa remaja adalah masa di mana kepribadian kita terbentuk secara intens.
Bernostalgia membantu kita menyatukan “potongan puzzle” kehidupan. Ini meyakinkan diri kita bahwa meskipun dunia berubah, ada benang merah yang menghubungkan sosok kita yang dulu dengan yang sekarang.
Dalam psikologi, ada fenomena yang disebut Reminiscence Bump. Orang cenderung paling ingat peristiwa yang terjadi antara usia 10 hingga 30 tahun. Mengapa? Karena di rentang usia inilah banyak “hal pertama” terjadi: cinta pertama, konser pertama, hingga perjuangan mencari jati diri. Ingatan ini tersimpan lebih dalam dan lebih emosional dibandingkan ingatan lainnya.
Otak manusia memiliki kecenderungan unik untuk menyaring ingatan buruk dan memperjelas ingatan baik. Kita cenderung lupa akan rasa sakit saat jatuh dari sepeda atau stres saat ujian sekolah, dan justru lebih ingat pada rasa es krim yang kita makan setelahnya atau lezatnya jajanan sekolah yang dijual ibu kantin. Hal ini membuat masa lalu terlihat jauh lebih indah dan damai daripada kenyataan aslinya.
Nostalgia sering kali bukan tentang benda, tapi tentang orang. Kenangan akan snack jadul, radio tua atau mainan jadul biasanya terikat dengan memori tentang orang tua, kakek-nenek, atau teman masa kecil. Bernostalgia membuat kita merasa dicintai dan terhubung dengan komunitas, yang sangat penting untuk kesehatan emosional.
Nostalgia bukanlah tanda bahwa Anda tidak bisa move on. Sebaliknya, itu adalah cara otak untuk mengisi ulang energi emosional. Dengan mengingat dari mana kita berasal, kita merasa lebih siap dan lebih berani untuk menghadapi masa depan.














Discussion about this post