Bagi masyarakat Indonesia yang melewati dekade 80-an hingga 90-an, selepas subuh ketika kita memutar frekuensi radio kerap kali terdengar suara berat yang khas menyampaikan nasehat dan hikmah, lewat intonasi yang tertata, dan banyolan segar di sela-sela ceramah yang mengundang gelak tawa jama’ah.
Beliau adalah K.H. Zainuddin MZ, sosok ulama fenomenal yang menyandang gelar tak tergantikan: Dai Sejuta Umat.
K.H. Zainuddin Hamidi (MZ adalah singkatan dari nama ayahnya Turmudzi) lahir pada 2 Maret 1952 di Jakarta. Beliau merupakan putra asli Betawi yang sejak kecil sudah menunjukkan bakat dalam dunia orasi.
Sejak kecil memang sudah tampak mahir berpidato. bakatnya tersebut tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Cipete Jakarta Selatan. Selama enam tahun Zainudin mengenyam pendidikan di bawah asuhan KH. Idham Chalid ulama kharismatik asal Kalimantan
Menempuh pendidikan tinggi di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN) Jakarta, beliau banyak belajar dari tokoh-tokoh besar, namun gaya bicaranya sering dianggap memiliki kemiripan pengaruh dengan ulama besar lainnya, seperti Buya Hamka, namun dengan logat Betawi yang kental.
Istilah “Sejuta Umat” bukan sekadar julukan tanpa alasan. Di era tersebut, K.H. Zainuddin MZ menciptakan fenomena yang belum pernah ada sebelumnya dalam dunia dakwah Indonesia.
Dakwah yang Menyentuh Seluruh Lapisan Masyarakat
Dakwah Zainudin MZ bisa diterima oleh semua Kalangan dikarenakan ceramah-ceramahnya menggunakan bahasa yang sederhana, lugas dan membumi.
Beliau mahir menyelipkan humor segar dan kritik sosial tanpa membuat pendengarnya merasa digurui. Beliau tahu kapan harus tegas dan kapan harus membuat audiens tertawa terbahak-bahak.
Raja Kaset Ceramah & Tabligh Akbar
Jika musisi punya album multi-platinum, Zainuddin MZ punya kaset ceramah yang terjual jutaan keping. Di setiap rumah, stasiun radio, warung kopi, hingga angkutan umum, suaranya bergema dari tape recorder. Kaset-kasetnya seperti “Harta, Takhta, dan Wanita” atau “Neraka & Penghuninya” menjadi best-seller di seluruh pelosok negeri.
Selain rekaman kaset setiap kali beliau dijadwalkan mengisi tablig akbar, lapangan luas sekalipun tidak akan cukup menampung massa. Beliau mampu menyatukan pejabat, artis, hingga rakyat jelata dalam satu majelis.
Merambah Film dan Televisi
Tidak berhenti di rekaman kaset, ketenaran sang “Da’i Sejuta Umat” dilirik oleh sineas kenamaan Chaerul Umam untuk bergabung bersama nama-nama besar seperti Rhoma Irama, Deddy MIzwar dan Ida Iasha dalam sebuah film bertajuk “Nada dan Dakwah” pada tahun 1991.

Memasuki tahun 2000-an, Zainudin MZ mulai merambah dunia televisi. Beberapa stasiun TV Swasta seperti TV One, MNCTV, Kompas TV dan Metro TV pernah menayangkan ceramah-ceramahnya terutama saat bulan Ramadhan.
Meskipun beliau telah wafat pada 5 Juli 2011, warisannya tetap hidup. Di era YouTube dan media sosial saat ini, rekaman ceramahnya mudah kita temukan untuk kita dengarkan dan resapi. oleh berbagai kalangan lintas generasi.
KH. Zainudin MZ telah mengajarkan bahwa dakwah tidak harus kaku. Dakwah adalah merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan mengejek.














Discussion about this post