Beberapa tahun yang lalu, kehidupan dunia modern sempat terhenti. Kota-kota besar didunia yang biasanya selalu sibuk seketika berubah seperti kota mati. Semua orang dipaksa untuk berhenti beraktifitas di luar ruang. Tindakan ini diambil karena merebaknya serangan wabah virus yang mematikan.
Semuanya bermula pada Desember 2019. Ketika otoritas kesehatan di China melaporkan sejumlah kasus “pneumonia misterius” yang tidak diketahui penyebabnya. Para pasien menunjukkan gejala demam tinggi, batuk kering, dan kesulitan bernapas yang mirip dengan flu berat, namun tidak merespons pengobatan biasa.
Sebelum menjadi pandemi global yang melumpuhkan dunia, virus Corona (SARS-CoV-2) memulai perjalanannya dari sebuah kota industri di China tengah: Wuhan, Provinsi Hubei.
Awal mula virus masuk ke Indonesia
Setelah berbulan-bulan spekulasi dan perdebatan publik mengenai apakah virus baru bernama SARS-CoV-2 (Corona virus) apakah sudah masuk ke wilayah Nusantara akhirnya terjawab.
tepat pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama virus Corona yang kemudian dikenal dengan istilah COVID-19 di Indonesia. Pengumuman ini dilakukan di Istana Merdeka, didampingi oleh Menteri Kesehatan saat itu, Terawan Agus Putranto.
Dua orang warga Depok, Jawa Barat—seorang ibu berusia 64 tahun dan putrinya berusia 31 tahun—dinyatakan positif terinfeksi. Mereka kemudian dikenal secara luas sebagai Kasus 01 dan Kasus 02.
Berdasarkan penelusuran medis (tracing), penularan ini tidak terjadi di luar negeri, melainkan di sebuah klub dansa di Jakarta. Pasien 01 melakukan kontak dekat dengan seorang warga negara Jepang yang berdomisili di Malaysia saat acara dansa pada 14 Februari 2020.
Beberapa hari kemudian, Pasien 01 mulai merasakan gejala batuk, sesak napas, dan demam. Setelah sempat dirawat di rumah sakit biasa tanpa ada kemajuan, muncul kabar bahwa teman dansanya di Malaysia positif COVID-19.
Setelah dilakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction), hasilnya menunjukkan positif, dan mereka segera dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara.
Panic buying dan reaksi masyarakat
Sesaat setelah pengumuman tersebut, gelombang kepanikan melanda masyarakat Indonesia secara cepat. Panic Buying terjadi di mana-mana, rak-rak supermarket mendadak kosong. Beras, mi instan, dan stok makanan kaleng ludes diborong.
Anjuran penggunaan masker untuk mencegah penularan virus membuat barang ini yang biasanya murah menjadi barang paling berharga dan langka dengan harga naik berlipat-lipat. Selain masker Cairan pembersih tangan menjadi benda paling dicari di seluruh penjuru negeri.
Langkah pemerintah mencegah penyebaran
Pemerintah segera menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat guna mencegah penyebaran covid 19 yang semakin mengkhawatirkan. Jika di negara lain dikenal istilah Lockdown, di Indonesia pemerintah menggunakan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Kebijakan ini mulai mulai digodok., hasilnya pada April 2020, DKI Jakarta menjadi provinsi pertama yang menerapkan PSBB. Inilah momen yang paling mendekati definisi lockdown di awal pandemi, lalu diperluas ke provinsi lain di seluruh Indonesia
Kebijakan PSBB menyebabkan peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, serta penutupan fasilitas umum. Kampanye “Work From Home” (WFH) dan belajar online di rumah bagi anak sekolah menjadi norma baru yang harus dijalani.

Aturan ini pun membuat jalanan di kota-kota Indonesia yang biasanya macet dan ramai berubah menjadi sunyi senyap, termasuk layanan ojek online dilarang membawa penumpang hanya bisa mengantarkan pesanan barang atau makanan dengan protokol kesehatan yang cukup ketat.
Setelah hampir tiga tahun hidup dalam pembatasan, pada 30 Desember 2022,pemerintah secara resmi mencabut kebijakan PSBB dan PPKM di seluruh Indonesia. Keputusan ini diambil setelah melihat angka imunitas masyarakat yang tinggi dan terkendalinya jumlah kasus.
Pandemi mungkin telah berlalu meningglkan duka yang mendalam karena telah meranggut ratusan korban meninggal, namun jejak perjuangan yang ditinggalkan akan selalu menjadi bagian dari sejarah bangsa. Indonesia telah membuktikan bahwa solidaritas dan adaptasi adalah kunci untuk bangkit.
Kita telah melihat bagaimana peristiwa ini mampu melahirkan rasa kepedulian antarsesama. Tugas kita sekarang adalah merawat kesadaran akan kebersihan dan kesiapan sistem kesehatan agar sejarah kelam ini tak perlu terulang kembali di masa depan. (WD)















Discussion about this post