Generasi 90-an sering disebut sebagai generasi transisi paling beruntung. Kita sempat merasakan dunia analog yang hangat sebelum akhirnya diterjang tsunami digital. Bagi anak zaman sekarang (Gen Z dan Alpha), mendengar cerita tentang Aktivitas Anak 90-an yang hidup tanpa Wi-Fi mungkin terdengar seperti masa kegelapan atau kisah zaman pra-sejarah.
Mari kita putar balik waktu ke masa di mana kebahagiaan tidak diukur dari jumlah likes, melainkan dari seberapa sabar kita menunggu lagu favorit diputar di radio.
1. Request Lagu di Radio dan Rekam ke Kaset

Sebelum era musik digital, radio adalah platform terbaik untuk mendengarkan musik. Anak 90-an rela duduk berjam-jam di depan demi menunggu lagu favorit diputar yang sudah direquest via telepon di wartel atau lewat kartu pos.
Terkadang ada yang merekam lagu tersebut dengan tape recorder. Tantangannya? Berharap agar penyiar tidak bicara di tengah lagu! Hasil rekaman tersebut kemudian menjadi “mixtape” pribadi yang diputar berulang-ulang sampai pita kasetnya kusut dan harus diputar manual pakai pulpen.
2. “Say Hello” di Wartel atau Telepon Umum

Sebelum era ponsel pintar, Wartel (Warung Telekomunikasi) dan telepon umum adalah tempat paling sakral, terutama bagi mereka yang sedang kasmaran.
Masuk ke bilik sempit, melihat arloji atau alat penghitung waktu yang menempel di dinding wartel agar tagihan tidak membengkak adalah kenangan tak terlupakan. Jika nelpon di telpon umum pinggir jalan siapkan koin 100 perak yang banyak, agar saat asyik ngobrol hubungan tidak diputus paksa oleh mesin akibat koin habis!
3. Surat-menyurat dan Sahabat Pena

Anak zaman sekarang saling follow di media sosial, anak 90-an punya Sahabat Pena. Ada seni tersendiri saat memilih kertas surat bermotif lucu (kertas binder), menulis dengan tulisan tangan rapi, hingga menyemprotkan parfum ke amplop. Lalu berangkat ke kantor pos untuk mengirimkan surat yang sudah ditulis.
Menunggu balasan surat dari pak pos bisa memakan waktu berminggu-minggu, tapi sensasi membukanya jauh lebih mendebarkan daripada notifikasi chat mana pun. Apagi kalau yang ditunggu surat dari seseorang yang punya hubungan spesial.
4. Nongkrong di “Dingdong”

Kalau sekarang mabar di HP, dulu kita mabar di tempat Dingdong. Dengan modal beberapa koin 100 perak, kita bisa jadi jagoan di Street Fighter, 1942 atau Virtua Fighter.
Suasana bising, kepulan asap (bagi yang di area dewasa), dan kerumunan orang yang menonton di belakang kita memberikan adrenaline rush yang tidak bisa digantikan oleh layar sekecil genggaman tangan.
5. Membeli Majalah Demi Poster dan Lirik Lagu

Dulu, sumber informasi tren bukan TikTok atau Instagram, melainkan majalah seperti Gadis, Aneka Yess!, atau Hai. Kita rela menabung uang jajan demi mendapatkan edisi terbaru.
Bau kertas yang khas adalah sensasi tersendiri ketika kita membuka majalah baru, apalagi dilembar demi lembar halamannya berbagai informasi seputar musik, film dan tren fashion tersaji dengan menarik. Bagian terbaiknya? Mencopot poster idola untuk ditempel di dinding kamar dan menghafal lirik lagu yang dimuat majalah tersebut.
Meskipun teknologi sekarang jauh lebih memudahkan, ada satu hal yang hilang: Proses dan Penantian. Aktivitas anak 90-an mengajarkan kita tentang kesabaran. Kita harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hiburan atau berkomunikasi dengan orang tersayang. Itulah yang membuat setiap momen terasa begitu berharga dan sulit dilupakan.













Discussion about this post