Bagi generasi 70-an 80-an hingga awal 90-an, malam takbiran belum lengkap rasanya jika belum menonton Operet Lebaran PAPIKO di TVRI. Di era ketika pilihan kanal televisi masih terbatas, PAPIKO hadir sebagai hiburan yang menyatukan seluruh keluarga di depan layar kaca sambil mempersiapkan segala keperluan Lebaran esok hari.
Operet Lebaran PAPIKO bukan sekadar acara musik biasa. Ia adalah tradisi malam Lebaran yang paling dinanti setiap tahun. Mari kita kenang kembali serba-serbi menarik di balik layar Operet Lebaran PAPIKO yang pernah berjaya di TVRI.
Titiek Puspa, sosok di balik layar PAPIKO
Bicara PAPIKO, tak akan lepas dari sosok “Eyang” Titiek Puspa. Berdiri pada 27 Mei 1972 PAPIKO (Persatuan Artis Penyanyi Ibu kota) adalah paguyuban yang dibentuk untuk meningkatkan kualitas seniman Indonesia dibidang musik, komedi dan seni lainnya. Organisasi ini menjadi wadah bagi artis-artis lintas generasi untuk berkarya di bidangnya masing-masing.

Dari perkumpulan inilah timbul gagasan untuk membuat Operet Lebaran PAPIKO, sebuah pertunjukan musikal kolosal yangmenampilkan artis-artis kenamaan sebagai bentuk rasa suka cita menyambut hari raya yang ditayangkan di TV nasional.
Namun tiadak semua operet lebaran yang ditayangkan digarap oleh PAPIKO, beberapa diantaranya diproduksi oleh pihak lain seperti grup Bimbo dan Patria Group dari Bandung
Tayangan Gemerlap Bertabur Bintang
PAPIKO adalah ajang berkumpulnya para bintang dunia hiburan masa itu. Penonton bisa melihat penyanyi papan atas, pemain film terkenal, hingga pelawak senior tampil dalam satu panggung.

Nama-nama seperti Emilia Contessa, Grace Simon, Hetty Koes Endang, hingga para komedian dari grup Srimulat, Warkop DKI dan Benyamin S. seringkali ikut meramaikan. Menonton Operet Lebaran PAPIKO terasa seperti melihat “All-Star” dunia hiburan Indonesia.
Format Operet yang Unik
Salah satu daya tarik utama gelaran ini adalah formatnya yang menyerupai drama musikal atau operet. Mereka tidak hanya berdiri diam bernyanyi, tapi mengenakan kostum tematik dan berakting dalam sketsa-sketsa lucu.Cerita yang diangkat biasanya ringan, berkisar tentang kehidupan sehari-hari, tradisi mudik, atau pesan-pesan moral tentang silaturahmi.

Beberapa judul yang pernah tayang diantaranya “Asrama Dara” (1980), “Lebaran di Bedeng” (1982), “Lebaran di Gang Kelinci” (1984), “Indahnya Berbagi Kasih” (1991) dan lain-lain. Khusus untuk episode “Lebaran di Bedeng”, PAPIKO mengangkat tema khusus tentang musibah letusan Gunung Galunggung yang terjadi pada tahun tersebut.
Kostum Megah dan Artistik
Meskipun teknologi televisi saat itu belum secanggih sekarang, Operet Lebaran PAPIKO selalu tampil dengan kostum yang sangat artistik. Setiap anggota PAPIKO seringkali mengenakan seragam yang elegan atau kostum tematik yang berwarna-warni, memberikan kesan mewah bagi penonton TVRI di seluruh pelosok nusantara.
Koreografi kolosal garapan Guruh Soekarnoputra
Guruh Soekarnoputra bersama grup kesenianSwara Maharddhika memiliki peran yang cukup besar dalam sejarah PAPIKO. Guruh dikenal sebagai sosok yang membawa standar baru dalam seni pertunjukan di Indonesia. Di PAPIKO, dia menyumbangkan sentuhan artistik pada gerakan tari para anggotanya.
Jika Anda mengingat penampilan Operet Lebaran PAPIKO yang sangat rapi, kolosal, dan memiliki unsur tradisional yang dikemas modern, itu sering kali melibatkan putra dari proklamator RI ini.

Operet Lebaran PAPIKO mungkin kini tinggal kenangan , namun kehangatan yang dipancarkannya setiap malam Lebaran takkan pernah pudar dari ingatan. PAPIKO telah menjadi simbol kebersamaan keluarga indonesia yang dipersatukan melalui layar kaca di tengah sukacita menyambut hari raya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Batin. Semoga memori manis malam takbiran bersama PAPIKO selalu membawa senyum di tengah perayaan Lebaran kita hari ini.













Discussion about this post