Bagi anak sekolah era 90-an dan awal 2000-an, ada sebuah tanggung jawab besar yang lebih mendebarkan daripada saat menghadapi ujian matematika: yaitu menjaga agar hewan digital yang disimpan di saku tidak mati.
Ya, kita sedang bicara tentang Tamagotchi. Jauh sebelum ada Pou atau Pet Simulator di smartphone, sebuah benda plastik berbentuk telur dengan layar LCD hitam putih seperti Game & Watch di tengahnya. Walaupun teknologinya tergolong sederhana, mainan ini telah berhasil menguras emosi, waktu, dan konsentrasi kita.
Mari kita putar waktu kembali ke masa di mana kebahagiaan ditentukan oleh seberapa banyak hati di layar monokrom yang terisi penuh.
Memiliki Tamagotchi di masa itu adalah simbol “anak keren”. Bunyi beep yang khas yang terdengar dari saku atau tas sekolah adalah kode bahwa kamu adalah seorang “orang tua” dari seekor makhluk digital. Meskipun kecil, benda ini memberikan tekanan mental yang nyata: Satu jam saja tidak diperhatikan, hewanmu bisa jatuh sakit atau—yang paling mengerikan—hanya tinggal batu nisan di layar
Karena memerlukan perhatain yang rutin agar tetap hidup, Tamagotchi terpaksa harus dibawa kemanapun kita pergi, bahkan saat sekolah. Hal itu menjadi tantangan tersendiri agar kita tidak sampai ketahuan guru.
Jatuh bangun memelihara hewan digital ini paling terasa saat jam pelajaran berlangsung, tangan masuk ke kolong meja, menekan tombol plastik dengan perasaan was-was agar suaranya tidak terdengar guru. Begitu guru berbalik badan, itulah kesempatan emas untuk memberikan “snack” digital atau membersihkan kotoran yang menumpuk.

Tamagotchi hanya mahluk digital di layar monokrom, tapi kenapa kita begitu peduli? Karena Tamagotchi mengajarkan kita tentang konsekuensi. Melihatnya tumbuh dari telur menjadi bayi (Babytchi) lalu berubah menjadi karakter keren seperti Mametchi adalah sebuah kepuasan tersendiri.
Saat muncul ikon “tengkorak”. Di sini, kemampuan kita memberikan obat digital diuji. JIka kita mengobati dengan tepat ada perasaan lega karena peliharaan kita selamat dan bisa melanjutkan hidup.
Namun, ketika layar hanya menampilkan gambar malaikat atau nisan. Rasanya seperti kehilangan teman sungguhan, sebelum akhirnya kita menekan tombol reset kecil di bagian belakang dengan lidi untuk memulai hidup baru.
Memelihara Tamagochi sebenarnya adalah masa di mana kita belajar tentang empati dan rutinitas. Tamagotchi membuat kita peduli pada sesuatu yang lain di luar diri kita, bahkan di sela-sela rumus hafalan sejarah yang membosankan.
Saat ini Tamagotchi tidak pernah benar-benar punah, mereka hanya berevolusi. Bandai (perusahaan pembuatnya) terus memproduksi perangkat ini untuk menyasar kolektor dewasa yang ingin bernostalgia dan generasi baru (Gen Alpha).
Generasi baru dari Tamagotchi seperti Uni, Pix dan Nano memiliki teknologi yang lebih mutakhir, diantaranya menggunakan display berwarna, terkoneksi wi-fi bahkan ada yang dilengkapi kamera.
Teknologi mungkin sudah menawarkan grafis resolusi tinggi dan kecerdasan buatan yang canggih. Namun, sensasi memainkan Tamagotchi di masa lalu dan saat mendengar bunyi beep di tengah keheningan kelas atau sedang tiduran di kamar adalah memori yang membekas dalam ingatan sebagai pengalaman seru di masa kecil. (WD)












Discussion about this post