Pada tanggal 11 Juni 1983, sebuah fenomena alam langka menyapa langit Nusantara. Gerhana Matahari Total (GMT) melintasi wilayah Indonesia dengan durasi yang tergolong sangat lama, mencapai lebih dari 5 menit terjadi sekitar pukul 11.30 WIB.
Namun, alih-alih dikatakan sebagai fenomena alam, peristiwa ini justru dikenang sebagai momen penuh ketegangan, keheningan yang mencekam, dan berbagai instruksi pemerintah yang kini terasa janggal jika diingat kembali.
Di era modern peristiwa gerhana matahari akan disambut dari sisi saind lewat penggunaan kacamata khusus dan teleskop untuk mengamatinya. Berbeda pada saat peristiwa GMT kala itu, pemerintah mengeluarkan instruksi yang sangat ketat: Dilarang menatap matahari secara langsung.
Pengumuman di Media Masa

Pengumuman mengenai Gerhana Matahari Total (GMT) 1983 dilakukan secara masif dan terstruktur melalui satu pintu utama karena kuatnya kontrol informasi pada masa itu.
TVRI menjadi alat sosialisasi paling utama. Pengumuman dilakukan melalui Berita Nasional, Siaran Khusus dan iklan layanan masyarakat secara berulang-ulang.
Kanal pemerintah lainnya yang menyebarkan informasi ini adalah RRI (Radio Republik Indonesia). Radio adalah sumber informasi utama untuk menyiarkan bernagai macam instruksi hingga ke pelosok-pelosok daerah, memastikan warga di kaki gunung sekalipun mendengar perintah untuk bersembunyi di dalam rumah.
Selain media elektronik media cetak seperti koran Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat dan Pikiran Rakyat memuat berbagai informasi serta arahan di halaman depan secara rutin menjelang hari H.
Memicu Ketakutan Massal
Beredar informasi bahwa melihat gerhana dapat menyebabkan kebutaan permanen seketika. Hal ini memicu ketakutan massal. Jalan-jalan protokol di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Semarang mendadak sepi seperti kota mati.
Anak-anak yang tumbuh di era tersebut pasti ingat bagaimana orang tua mereka melakukan persiapan ekstra saat menghadapi peristiwa tersebut. Kaca jendela ditutup koran atau kain hitam agar sinar matahari tidak masuk ke dalam rumah, bahkan sebagian warga bersembunyi di kolong tempat tidur atau di dalam lemari karena takut akan radiasi yang dianggap mematikan.
Sumber: Youtube Sanggar Cerita
Satu-satunya cara aman untuk melihat gerhana adalah melalui siaran langsung TVRI yang dipandu oleh laporan ilmiah, sementara di luar rumah suasana siang yang terang perlahan berubah seolah menjadi senja yang dingin dan aneh.
Mitos Gerhana Matahari
Datangnya gerhana waktu itu dihubungkan dengan mitos dan kepercayaan tertentu, sehingga di sejumlah daerah terutama di pedesaan fenomena ini disambut dengan berbagi ritual lokal.
Beberapa warga memukul-mukul lesung atau benda bunyi-bunyian untuk “mengusir” raksasa yang dipercaya sedang menelan matahari berdasarkan kepercayaan mitos “Batara Kala”.

Hal ini semakin mencekam ketika ayam-ayam peliharaan warga kembali ke kandang dan burung-burung berhenti berkicau karena mengira malam telah tiba, menciptakan suasana sunyi yang mistis.
Dilihat dari perspektif sekarang, reaksi pemerintah dan masyarakat saat itu mungkin terasa berlebihan. Namun, perlu dipahami bahwa saat itu akses informasi masih terbatas. Pemerintah bermaksud melindungi warga dari risiko kerusakan mata (fotokeratitis), namun penyampaiannya menciptakan efek ketakutan yang luar biasa.
Menariknya, banyak peneliti internasional justru datang ke Indonesia (khususnya ke Borobudur dan Cepu) untuk melakukan penelitian karena Indonesia dianggap sebagai lokasi pengamatan terbaik di dunia kala itu.
Gerhana Matahari Total 1983 adalah sebuah bagian dari sejarah ilmu pengetahuan dan sosial Indonesia. Bagi mereka yang mengalaminya, sensasi kegelapan total di siang bolong dan rasa tegang saat bersembunyi di rumah adalah kenangan yang tak akan pernah pudar.
Kini, kita bisa melihat gerhana dengan lebih santai berkat sains, namun GMT 1983 tetap dikenang sebagai gerhana yang paling “bersejarah” bagi bangsa Indonesia.












Discussion about this post