Siapa yang tidak kenal dengan biskuit dalam kemasan kaleng kotak berwarna merah yang satu ini? Biskuit Khong Guan bukan sekadar camilan, melainkan “suguhan wajib” yang selalu hadir di ruang tamu masyarakat Indonesia saat hari raya.
Di balik rasanya yang klasik, Bagi masyarakat Indonesia Khong Guan adalah ikon Lebaran dari masa ke masa. Namun, di balik popularitasnya, ada banyak hal menarik yang belum diketahui banyak orang mengenai biskuit legendaris ini. Yuk, simak fakta-faktanya!
Berasal dari Singapura, Bukan Indonesia
Banyak yang mengira Khong Guan adalah produk asli Indonesia karena kehadirannya yang menjadi sebuah tradi di setiap Lebaran. Faktanya, Khong Guan didirikan oleh dua bersaudara asal Fujian, Tiongkok, yaitu Chew Choo Keng dan Chew Choo Han di Singapura pada tahun 1947. Mereka memulai usaha ini setelah sebelumnya bekerja di sebuah pabrik biskuit lokal.
Berawal dari Mesin Biskuit Sisa Perang
Sejarah Khong Guan cukup mengharukan. Pasca Perang Dunia II, kedua pendirinya menemukan mesin biskuit tua yang rusak di sebuah pabrik yang ditinggalkan.
Mereka memperbaikinya secara manual dan mulai memproduksi biskuit dari sisa-sisa persediaan tepung yang ada. Inilah cikal bakal kejayaan bisnis biskuit mereka.
Pelukis di Kaleng Khong Guan Orang Indonesia
Meski merek Khong Guan berasal dari luar negeri, sosok di balik ilustrasi kaleng merah yang melegenda itu adalah seorang seniman asal Indonesia bernama Bernardus Prasodjo. Beliau juga merupakan sosok di balik logo ikonik lainnya seperti sirup Marjan dan biskuit Monde.

Lukisan itu dia buat sekitar tahun 1970-an. Waktu itu, dia mendapat pesanan untuk gambar itu dari sebuah perusahaan separasi film.
Adapun inspirasinya adalah sebuah potongan gambar dari sebuah majalah yang sudah lusuh. Dia diberi contoh gambar itu, lalu mengikuti arahan yang diberikan pihak pemesan agar sesuai dengan keinginan mereka.
Misteri “Ayah” di Gambar Kaleng
Ini adalah pertanyaan paling sering dibahas: Ke mana perginya sang ayah? Seperti kita ketahui gambar di kaleng Khong Guan tampak sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dengan dua anak sedang menikmati biskuit di sebuah meja tanpa kehadiran sang Ayah.
Perihal keberadaan sang Ayah pada keluarga ini telah menjadi bahan diskusi dan candaan lintas generasi. Berbagai teori berkembang dari mulai ayahnya yang memotret sehingga dia tidak tampak di gambar sampai dugaan status wanita di gambar sebagai sosok single mom.
Namun akhirnya keberadaan bapak dari keluarga yang ada di Kaleng Khong Guan telah terungkap. Dikutip dari Grid.id, ternyata ilustrasi keluarga tersebut berasal dari buku Ladybird karya Harry Wingfield tahun 1959.
Perihal tentang buku tersebut dimuat d situs ladybirdflyawayhome.com. di sana kita mendapatkan informasi bapak dari kedua anak tersebut tidak hilang melainkan sedang pergi bekerja.

Dalam buku aslinya di samping gambar keluarga tanpa bapaknya itu tertulis, “At four o’clock we have our tea,” tulis keterangannya.

Kemudian, pada gambar selanjutnya ada sosok Bapaknya yang baru saja pulang ke rumah setelah pulang dari tempat kerja, “At six o’clock Daddy comes home,” tulis keterangan dalam buku.
Kalengnya yang Multifungsi
Salah satu fakta paling “Indonesia” tentang Khong Guan adalah nasib kalengnya setelah biskuitnya habis. Kaleng Khong Guan adalah “tempat penyimpanan serbaguna” paling populer. Isinya bisa berubah menjadi rengginang, kerupuk, hingga peralatan menjahit. Hal ini menjadikan Khong Guan sebagai pionir gaya hidup reuse secara tidak sengaja di Indonesia.
Varian “Assorted” yang Tak Pernah Berubah
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa isi dalam kaleng Khong Guan Assorted (kotak merah) hampir tidak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu?
Mulai dari biskuit cokelat bentuk persegi, biskuit gula, hingga yang ada krim di tengahnya. Konsistensi rasa dan bentuk inilah yang menjaga loyalitas konsumennya hingga kini.
Varian Termewah: Wafer yang Dibungkus Plastik
Dalam satu kaleng Assorted Khong Guan ada berbagai varian biskuit. Biskuit wafer cokelat yang dibungkus plastik bening dan diberi segel pita merah dianggap sebagai varian paling mewah.

Biasanya, wafer inilah yang paling cepat habis diperebutkan oleh anak-anak dan orang dewasa saat kaleng baru dibuka. Jika Anda mendapatkan wafer ini, berarti Anda adalah orang yang paling beruntung di ruang tamu tersebut.
Di balik fakta-fakta uniknya, bau harum biskuit saat tutup kaleng dibuka pertama kali adalah aroma yang selalu dirindukan saat menyambut hari raya. Khong Guan membuktikan bahwa di tengah gempuran kuliner modern yang datang dan pergi, sesuatu yang klasik dan konsisten akan selalu memiliki tempat istimewa.
Khong Guan telah berhasil menyatukan tawa dan kebersamaan di meja tamu, menciptakan kenangan indah , dan menjadi salah satu tradisi kuliner lebaran di Indonesia hingga saat ini (WD)













Discussion about this post