Pernahkah Sobat Jadul merindukan suara motor tukang pos yang berhenti di depan pagar rumah seminggu sebelum Idulfitri? Di era 80-an hingga 90-an, tumpukan amplop warna-warni di atas meja tamu adalah salah satu simbol hangatnya silaturahmi.
Berbeda dengan jaman sekarang berkirim ucapan lebaran dengan mudah dan cepat bisa dilakukan melalui pesan instant, di era 80-90an mengucapkan Hari Raya Idul Fitri untuk seseorang di luar kota atau luar daerah harus melalui sebuah “perjuangan” dengan mengirim sepucuk kartu melalui pos.
Memang sedikit butuh waktu dan effort, tapi semuanya dilakukan dengan senang hati demi tersambungnya tali silaturahmi. Mari kita putar waktu kembali ke masa di mana kartu lebaran adalah cara paling “elegan” untuk memohon maaf dari jarak jauh
Berburu kartu lebaran
Di era 80-90-an Beberpa hari menjelang lebaran ada satu kegiatan yang sudah menjadi tradisi yaitu berburu kartu lebaran. Ngabuburit anak zaman dulu sering kali diisi dengan mendatangi toko buku atau lapak kaki lima yang memajang ratusan desain kartu lebaran.
Berbagai macam desain kartu lebaran bisa jadi pilihan mulai dari gambar masjid dengan kubah emas, kaligrafi timbul, hingga gambar kartun lucu yang biasanya jadi favorit anak muda untuk dikirim pada sahabat atau teman spesial.
Bagi mereka yang memiliki jiwa seni, momen lebaran adalah waktu untuk menunjukan karya. Mereka mebuat kartu ucapan dengan berbagai media, tidak hanya dengan kertas, cat dan tinta, berbagai macam pernak-pernik seperti daun kering, biji-bijian kering, kain dan lainnya mereka tambahkan agar kartu terlijat lebih unik dan personal.
Berpantun dan berpuisi
Berbeda dengan ucapan lewat pesan instan zaman sekarang, menulis kartu lebaran butuh konsentrasi tinggi. Karena ditulis menggunakan pulpen atau pulpen warna emas, Salah tulis satu huruf saja berarti harus mengganti kartu baru. Apalagi kata yang ditulispun tidak sembarangan, harus benar-benar memiliki makna yang dalam walaupun terkadang bergaya non-formal.
Generasi 90-an pasti ingat pantun legendaris seperti “Makan ketupat di bawah pohon, salah dan khilaf mohon diampun” atau “Ikan teri dimakan hiu, Minal Aidin Wal Faizin For You”.
Selain lewat pantun, ada juga yang menulis kata-kata puitis bak seorang pujangga untuk mengucapkan selamat Idul Fitri. Orang-orang berlomba menuliskan bait-bait indah agar ucapannya memberi kesan tersendiri bagi penerima kartu.
Pasukan orange sang penyambung silaturahmi
Sebelum mengirimkan ke kantor pos, kita harus teliti menuliskan alamat dan menempelkan perangko yang sesuai dengan jarak tujuan kartu yang akan dikirimkan, semakin jauh perangkonya semakin mahal. Setelajh semua sesuai lalu memasukkannya ke kotak pos (bis surat) atau dititipkan pada petugas pos yang kebetulan lewat depan rumah.
Kantor pos menjadi tempat paling sibuk sepanjang Ramadhan. Jutaan kartu lebaran menumpuk di sana menunggu untuk diantarkan sesuai tujuan masing-masing.
Setelah disortir lalu dikirimkan ke kantor cabang daerah tujuan, dilanjutkan dibawa oleh petugas pos ke tujuan terakhir dengan mengendarai sepeda motor atau sepeda. Pasukan berbaju orange inilah yang berjasa menyambungkan silaturahmi jarak jauh saat hari raya.
Di momen lebaran kala itu ada kepuasan tersendiri saat kartu yang kita kirim sampai ke tangan sahabat di luar kota, dan rasa berdebar saat menunggu kartu balasan dari mereka.
Karena secara psikologis, kartu fisik memberikan kesan bahwa si pengirim benar-benar meluangkan waktu. Ada jejak tangan (handwriting) yang tidak bisa digantikan oleh font digital apa pun. Kartu lebaran bukan sekadar kertas; ia adalah bukti bahwa seseorang benar-benar mengingat kita di tengah kesibukan mereka.
Kini, tradisi ini mulai langka bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada yang melakukannya secara pribadi. Namun di beberapa instansi atau perusahann tradisi ini masih dilakukan dengan cara disisipkan pada hampers eksklusif. Di tengah banjirnya informasi digital, menerima kartu fisik kini justru terasa sangat mewah dan berkesan.















Discussion about this post