waktudulu.com
  • Kaset Kusut
  • Kotak Mainan
  • Layar Jadul
  • Kertas Tua
  • Barang Kenangan
  • Jejak Peristiwa
  • Ragam
No Result
View All Result
  • Kaset Kusut
  • Kotak Mainan
  • Layar Jadul
  • Kertas Tua
  • Barang Kenangan
  • Jejak Peristiwa
  • Ragam
waktudulu.com
No Result
View All Result
  • Kaset Kusut
  • Kotak Mainan
  • Layar Jadul
  • Kertas Tua
  • Barang Kenangan
  • Jejak Peristiwa
  • Ragam

Gerhana Matahari Total 1983: Antara Sains, Mitos & Ketakutan

Februari 12, 2026
in Jejak Peristiwa
Mengenang Gernaha Matahari Total 1983
Share on FacebookShare on Twitter

Pada tanggal 11 Juni 1983, sebuah fenomena alam langka menyapa langit Nusantara. Gerhana Matahari Total (GMT) melintasi wilayah Indonesia dengan durasi yang tergolong sangat lama, mencapai lebih dari 5 menit terjadi sekitar pukul 11.30 WIB.

Namun, alih-alih dikatakan sebagai fenomena alam, peristiwa ini justru dikenang sebagai momen penuh ketegangan, keheningan yang mencekam, dan berbagai instruksi pemerintah yang kini terasa janggal jika diingat kembali.

Baca Juga

Sang “Exocet” dari Saparua, Jejak Ellyas Pical Juara Dunia Tinju Pertama Indonesia

Gunung Galunggung Meletus, Jejak Kelam Bencana di Tasikmalaya

Arie Hanggara, Tragedi Pilu yang Mengubah Hukum Perlindungan Anak di Indonesia

Di era modern peristiwa gerhana matahari akan disambut dari sisi saind lewat penggunaan kacamata khusus dan teleskop untuk mengamatinya. Berbeda pada saat peristiwa GMT kala itu, pemerintah mengeluarkan instruksi yang sangat ketat: Dilarang menatap matahari secara langsung.

Pengumuman di Media Masa

Berita GMT 1983 di koran

Pengumuman mengenai Gerhana Matahari Total (GMT) 1983 dilakukan secara masif dan terstruktur melalui satu pintu utama karena kuatnya kontrol informasi pada masa itu.

TVRI menjadi alat sosialisasi paling utama. Pengumuman dilakukan melalui Berita Nasional, Siaran Khusus dan iklan layanan masyarakat secara berulang-ulang.

Kanal pemerintah lainnya yang menyebarkan informasi ini adalah RRI (Radio Republik Indonesia). Radio adalah sumber informasi utama untuk menyiarkan bernagai macam instruksi hingga ke pelosok-pelosok daerah, memastikan warga di kaki gunung sekalipun mendengar perintah untuk bersembunyi di dalam rumah.

Selain media elektronik media cetak seperti koran Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat dan Pikiran Rakyat memuat berbagai informasi serta arahan di halaman depan secara rutin menjelang hari H.

Memicu Ketakutan Massal

Beredar informasi bahwa melihat gerhana dapat menyebabkan kebutaan permanen seketika. Hal ini memicu ketakutan massal. Jalan-jalan protokol di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Semarang mendadak sepi seperti kota mati.

Anak-anak yang tumbuh di era tersebut pasti ingat bagaimana orang tua mereka melakukan persiapan ekstra saat menghadapi peristiwa tersebut. Kaca jendela ditutup koran atau kain hitam agar sinar matahari tidak masuk ke dalam rumah, bahkan sebagian warga bersembunyi di kolong tempat tidur atau di dalam lemari karena takut akan radiasi yang dianggap mematikan.

Sumber: Youtube Sanggar Cerita

Satu-satunya cara aman untuk melihat gerhana adalah melalui siaran langsung TVRI yang dipandu oleh laporan ilmiah, sementara di luar rumah suasana siang yang terang perlahan berubah seolah menjadi senja yang dingin dan aneh.

Mitos Gerhana Matahari

Datangnya gerhana waktu itu dihubungkan dengan mitos dan kepercayaan tertentu, sehingga di sejumlah daerah terutama di pedesaan fenomena ini disambut dengan berbagi ritual lokal.

Beberapa warga memukul-mukul lesung atau benda bunyi-bunyian untuk “mengusir” raksasa yang dipercaya sedang menelan matahari berdasarkan kepercayaan mitos “Batara Kala”.

Mitos Batara Kala GMT 1983

Hal ini semakin mencekam ketika ayam-ayam peliharaan warga kembali ke kandang dan burung-burung berhenti berkicau karena mengira malam telah tiba, menciptakan suasana sunyi yang mistis.

Dilihat dari perspektif sekarang, reaksi pemerintah dan masyarakat saat itu mungkin terasa berlebihan. Namun, perlu dipahami bahwa saat itu akses informasi masih terbatas. Pemerintah bermaksud melindungi warga dari risiko kerusakan mata (fotokeratitis), namun penyampaiannya menciptakan efek ketakutan yang luar biasa.

Menariknya, banyak peneliti internasional justru datang ke Indonesia (khususnya ke Borobudur dan Cepu) untuk melakukan penelitian karena Indonesia dianggap sebagai lokasi pengamatan terbaik di dunia kala itu.

Gerhana Matahari Total 1983 adalah sebuah bagian dari sejarah ilmu pengetahuan dan sosial Indonesia. Bagi mereka yang mengalaminya, sensasi kegelapan total di siang bolong dan rasa tegang saat bersembunyi di rumah adalah kenangan yang tak akan pernah pudar.

Kini, kita bisa melihat gerhana dengan lebih santai berkat sains, namun GMT 1983 tetap dikenang sebagai gerhana yang paling “bersejarah” bagi bangsa Indonesia.

Artikel Menarik Lainnya

Sang “Exocet” dari Saparua, Jejak Ellyas Pical Juara Dunia Tinju Pertama Indonesia

Sang “Exocet” dari Saparua, Jejak Ellyas Pical Juara Dunia Tinju Pertama Indonesia

Januari 29, 2026
gunung galunggung meletus

Gunung Galunggung Meletus, Jejak Kelam Bencana di Tasikmalaya

Februari 5, 2026
Arie Hanggara, Tragedi Pilu yang Mengubah Hukum Perlindungan Anak di Indonesia

Arie Hanggara, Tragedi Pilu yang Mengubah Hukum Perlindungan Anak di Indonesia

Januari 30, 2026
Next Post
13 Februari 2000: Komik Strip “Peanuts” Terakhir Karya Schulz Diterbitkan

13 Februari 2000: Komik Strip "Peanuts" Terakhir Karya Schulz Diterbitkan

Discussion about this post

Terbaru

13 Februari 2000: Komik Strip “Peanuts” Terakhir Karya Schulz Diterbitkan

13 Februari 2000: Komik Strip “Peanuts” Terakhir Karya Schulz Diterbitkan

Februari 13, 2026
Mengenang Gernaha Matahari Total 1983

Gerhana Matahari Total 1983: Antara Sains, Mitos & Ketakutan

Februari 12, 2026
Christian Dior New Look

12 Februari 1947:  “New Look” Christian Dior Kukuhkan Paris sebagai Pusat Mode Dunia

Februari 12, 2026
James buster douglas vs mike tyson

11 Februari 1990: James “Buster” Douglas Memukul KO Mike Tyson

Februari 11, 2026
Musik Indonesia 80-an: Dari Pop Kreatif Hingga ‘Lagu Cengeng’

Nostalgia Kaset, Kenangan Manis “Generasi Analog” Sebelum Era Spotify

Februari 11, 2026
waktudulu.com

Situs Nostalgia Terlengkap: Jelajahi kembali kenangan masa lalu melalui artikel tentang musik retro, tren gaya hidup jadul, ulasan mainan dan barang vintage, hingga peristiwa bersejarah. Tempat seru bagi kamu yang rindu masa lalu. "Satu Klik, Beribu Memori"

Jangan Lewatkan!

nasida ria

Nasida Ria, Grup Qasidah yang tak Pernah Padam

by WaktuDulu
Februari 7, 2026
0

Siapa yang tidak kenal dengan lagu "Perdamaian" Liriknya yang bermakna dalam dengan balutan musik yang ceria dan enerjik tetap relevan...

Christian Dior New Look

12 Februari 1947:  “New Look” Christian Dior Kukuhkan Paris sebagai Pusat Mode Dunia

by WaktuDulu
Februari 12, 2026
0

12 Februari 1947 Christian Dior mengguncang dunia mode pascaperang dengan meluncurkan koleksi debutnya yang kemudian dijuluki sebagai "New Look". Di...

hari lahir christiano ronaldo

5 Februari 1985: Lahirnya Sang megabintang CR7

by WaktuDulu
Februari 5, 2026
0

Lahir di Funchal, Madeira, Portugal, Chritiano Ronaldo adalah simbol nyata dari dedikasi tanpa batas yang bermula dari jalanan hingga menjadi...

No Result
View All Result
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3

© 2026 - waktudulu.com.