Sebelum kita mengenal Chris John atau Daud Yordan, bagi generasi yang hidup di era 1980-an nama Ellyas Pical adalah simbol kebanggaan nasional. Saat itu, jalanan mendadak sepi dan warung-warung kopi penuh sesak setiap kali “The Exocet”, julukan untuk Elly naik ring.
Elly bukan sekadar petinju; ia adalah harapan bangsa yang berhasil membuktikan bahwa anak daerah dari pelosok Maluku bisa mengguncang dunia.
Dari Pencari Mutiara Menjadi Penguasa Ring
Lahir di Ullath, Saparua, Maluku Tengah pada 24 Maret 1960, masa kecil Elly jauh dari kemewahan. Ia adalah seorang penyelam alami yang mencari mutiara di dasar laut tanpa alat bantu.
Ketertarikannya pada tinju muncul saat ia sering menonton aksi Muhammad Ali di TVRI. Meski sempat dilarang orang tuanya, Elly berlatih sembunyi-sembunyi hingga akhirnya bakatnya ditemukan dan ia mulai merintis karier di jalur amatir sebelum terjun ke profesional pada tahun 1983.
Momen Bersejarah di Istora Senayan

Puncak karier Ellyas Pical terjadi pada 3 Mei 1985. Di hadapan sekitar 12.000 pendukung fanatik di Istora Senayan, Jakarta, Ellyas menghadapi juara bertahan asal Korea Selatan, Chun Ju-do.
Dengan pukulan hook dan uppercut kiri yang mematikan, Ellyas berhasil merobohkan Chun Ju-do di ronde ke-8. Kemenangan ini menobatkan Ellyas Pical sebagai Juara Dunia IBF kelas Bantam Yunior, sekaligus menjadikannya orang Indonesia pertama yang merengkuh gelar juara dunia tinju profesional.
Media menjuluki Ellyas dengan sebutan “The Exocet”. Nama ini diambil dari rudal buatan Prancis yang terkenal sangat cepat dan akurat saat Perang Malvinas.
Julukan ini sangat tepat menggambarkan kecepatan dan daya ledak pukulan tangan kiri Ellyas yang sering kali membuat lawan tersungkur sebelum pertandingan berakhir.
Pada 25 Agustus 1985 ia berhasil mempertahankan gelarnya setelah mengalahkan petinju Australia, Wayne Mulholland. Namun pada laga selanjutnya iya dikalahkan petinju Republik Dominika, Cesar Polanco di Jakarta.
Namun Pical mampu bangkit dan membalas kekalahannya atas Polanco dengan balik memukul KO Polanco pada pertandingan kedua di Jakarta, pada 5 Juli 1986.
Sempat mempertahankan gelar melawan petinju Korea Selatan Dong-chun Lee, langkah Pical terhenti setelah menyerah dari petinju Thailand, Khaosai Galaxy di ronde 14, pada tahun 1987
Sempat Depresi dan Bangkit Lagi!

Kekalahan dari Galaxy membuat Pical depresi dan enggan kembali naik ke atas ring. Namun perlahan-lahan Elly mampu bangkit, mimpinya sudah membawanya terlalu jauh. Melangkah maju adalah satu-satunya jalan bagi dirinya.
Oktober 1987, Elly kembali ke Senayan. Ia menantang sang juara bertahan IBF kelas bantam yunior dari Korea Selatan, Tae-ill Chang. Setelah pertarungan panjang 15 ronde, Elly dinyatakan menang melalui keputusan angka tidak bulat (split decision).
Gelar Direbut, Perlahan Menyingkir
Gelar tersebut bertahan selama 2 tahun sebelum Elly harus mengakui keunggulan petinju Kolombia, Juan Polo Perez dalam laga yang digelar di Virginia, Amerika Serikat pada tahun 1989.
Setelah gelarnya direbut, Elly sempat bertanding tinju non gelar sebanyak tiga kali. Akhirnya ayah dari Lorinly dan Matthew Pical ini pun sedikit demi sedikit menyingkir dari ring tinju.











Discussion about this post