“Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi.”
Kalimat di atas bukan sekadar barisan kata. Bagi generasi lawas, kalimat tersebut adalah “mantra” pertama yang membuka gerbang literasi mereka di Sekolah Dasar. Menggunakan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik), sosok Budi dan keluarganya menjadi standar kurikulum nasional yang tak tergantikan selama belasan tahun. Mereka adalah tokoh sentral dalam Buku Bahasa Indonesia SD 80-an
Mari kita bongkar kembali memori tentang keluarga paling terkenal di Indonesia ini.

Dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas 1 hingga 3 SD terbitan tahun 80-an, keluarga Budi digambarkan sebagai potret keluarga inti yang ideal dan harmonis. Berikut adalah anggota keluarganya yang ikonik:
- Budi: Anak laki-laki berpakaian rapi yang selalu tampak rajin.
- Wati: Kakak perempuan Budi yang sering digambarkan membantu ibu.
- Iwan: Adik laki-laki Budi yang masih kecil (muncul di beberapa versi buku).
- Ibu Budi: Sosok ibu rumah tangga teladan yang sering digambarkan sedang memasak atau menjahit.
- Bapak Budi: Sosok kepala keluarga yang biasanya digambarkan baru pulang kerja atau membaca koran di teras.
Siti Rahmani Rauf, Sosok di Balik “Ini Budi”

Banyak yang tidak tahu bahwa sosok yang berjasa menciptakan metode legendaris ini adalah seorang pendidik asal Padang bernama Siti Rahmani Rauf. Beliau menyusun buku tersebut di awal tahun 80-an atas permintaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Metode yang beliau kembangkan membuat anak-anak sangat cepat belajar membaca karena menggunakan pendekatan pengenalan kata yang diurai menjadi suku kata, lalu menjadi huruf.
Buku ini tidak hanya mengajarkan membaca, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai sosial di masa itu, Digambarkan melalui kehidupan keluarga yang sederhana tinggal di rumah yang bersih dan halaman yang luas.
Di dalam keluarga tersebut digambarkan pembagian peran yang jelas: Bapak bekerja, Ibu mengurus rumah tangga, dan anak-anak belajar serta bermain. Lalu nili-nilai kedisiplinan divisualisasikan oleh sosok Budi yang selalu memakai kemeja atau seragam yang disetrika licin.
Salah satu alasan utama mengapa keluarga ini begitu melekat bagi anak-anak yang mengenyam pendidikan SD pada tahun 80’an adalah karena keseragaman. Dari Sabang sampai Merauke, semua anak SD menggunakan buku yang sama. Di sini Budi menjadi simbol persatuan pendidikan di Indonesia.
Ada Goresan Tangan “Pak Raden” dalam Ilustrasi Keluarga Budi

Bahasa Indonesia SD 80-an
Selain itu, ilustrasi gambar yang sederhana dengan garis yang tegas membuat visualisasi keluarga Budi mudah diingat oleh anak-anak, bahkan hingga mereka dewasa dan memiliki cucu.
Iustrasi yang memorable tersebut merupakan hasil karya beberapa seniman, salah satunya Drs. Suyadi yang lebih dikenal sebagai pengisi suara Pak Raden dalam Film Boneka Si Unyil.
Keluarga Budi adalah bagian dari sejarah besar dunia pendidikan Indonesia. Meski kini kurikulum telah berganti berkali-kali dan metode belajar sudah berbasis digital, bagi generasi lawas sosok Budi takkan pernah tergantikan.











Discussion about this post