Siapa yang tidak kenal dengan lagu “Perdamaian” Liriknya yang bermakna dalam dengan balutan musik yang ceria dan enerjik tetap relevan hingga hari ini. Di balik lagu tersebut, ada Nasida Ria, grup qasidah asal Semarang yang telah menjadi ikon budaya Islami Indonesia selama lebih dari empat dekade.
Dibentuk pada tahun 1975 oleh H. Mudrikah Zain, Nasida Ria lahir dari para santriwati di Semarang dengan formasi awal Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain. Awalnya, grup ini menggunakan rebana sebagai instrumen utama.
Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai memasukkan unsur instrumen modern seperti gitar elektrik, bass, biola, keyboard dan seruling. Perpaduan ini menciptakan aliran musik “Qasidah Modern” yang unik dan sangat digemari masyarakat luas.
Salah satu alasan mengapa grup qasidah ini tetap relevan adalah lirik lagu mereka. Jika grup lain fokus pada lirik Islami yang umum, Nasida Ria berani mengangkat isu-isu sosial yang berat, misalnya mengangkat tema isu lingkungan melalui lagu “Tahun 2000”, mereka sudah meramalkan tantangan dunia masa depan sejak puluhan tahun lalu, lagu tema kemanusiaan seperti lagu “Perdamaian” yang legendaris.
Bukan “Jago Kandang“
Ada anggapan grup qaidah hanya bisa tampil di acara-acara pengajian ibu-ibu, tabligh akbar atau acara hari besar Islam. Tapi berbeda dengan Nasida Ria, grup ini tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga di luar negeri, terutama di negara-negara dengan komunitas Muslim seperti Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah.

Bahkan mereka pernah tampil dalam acara Die Garten des Islam di Berlin pada tahun 1994 dan di event Documenta Fifteen di Kassel, Jerman pada tahun 2022.
Kolaborasi Lintas Genre yang Mengejutkan
Selain regenarasi salah satu yang membuat grup yang saat ini dipimpin oleh Choliq Zain (Gus Choliq) ini tetap bertahan di dunia musik Indonesia adalah keberanian berkolaborasi dan ini membuktikan bahwa Nasida Ria adalah entitas yang hidup.
Mereka tidak terjebak dalam nostalgia, melainkan terus bergerak maju, merangkul teknologi, dan membuka diri terhadap musisi muda. Inilah yang membuat mereka tetap eksis yang dicintai oleh nenek, ibu, hingga cucunya.
Salah satu kolaborasi yang cukup menyita perhatian adalah pada pertengahan tahun 2024. Dunia maya dan industri musik Indonesia dikejutkan dengan kampanye kolaborasi antara Nasida Ria, dengan grup idola nomor satu Indonesia, JKT48. Proyek yang diinisiasi dalam rangka kampanye Ramadhan Google ini langsung menjadi viral.

Dalam kolaborasi ini, mereka membawakan lagu bertajuk “Ini Ramadhan Kita”. Keunikannya terletak pada perpaduan dua dunia yang berbeda, sentuhan vokal qasidah yang khas dan menyejukkan dengan iringan biola dan rebana menyatu dengan energi pop yang ceria, koreografi yang sinkron, dan semangat khas idol group
4 DEkade Eksistensi Nasida Ria
45 tahun berkiprah, Nasida Ria sudah sampai pada generasi ketiga dan sudah menghasilkan puluhan album sejak berdiri hingga menjadi inspirasi bagi banyak grup qasidah lainnya. Meskipun beberapa anggotanya telah berganti seiring waktu, semangat dan pesan yang mereka bawa tetap relevan hingga kini.
Nasida Ria berhasil mempertahankan identitas mereka di tengah gempuran tren musik modern. Gaya berpakaian mereka yang khas (gaun qasidah dengan hijab serasi) dan kemampuan mereka memainkan alat musik sendiri menjadikan mereka sosok inspiratif, terutama bagi kaum perempuan.
Mereka membuktikan bahwa menjadi musisi yang membawakan lirik religius tidak berarti harus tertutup dari kemajuan zaman. Inovasi mereka dalam musik dan keberanian dalam lirik membuatnya layak disebut sebagai The Legend of Indonesian Qasidah.











Discussion about this post