Di tengah gempuran manga Jepang dan komik Marvel, Indonesia pernah memiliki “raja” komik lokal yang terjual jutaan eksemplar di pasar malam dan penjual di sekitar sekolah SD. “Raja” tersebut adalah Komik Petruk Gareng Karya Tatang S.
Bagi anak-anak yang tumbuh di era 80-an hingga 90-an, komikus bernama lengkap Tatang Suhenra adalah legenda nyata. Tanpa perlu promosi besar-besaran di media sosial seperti sekarang, karyanya berhasil merajai lapak-lapak buku di pinggir jalan hingga di sekitar sekolahan.
Komik tipis dengan kertas buram ini bukan sekadar bacaan murah, melainkan fenomena budaya yang merekam keseharian masyarakat Indonesia pada masanya.
Siapa Tatang S. ?

Tatang Suhenra adalah komikus asal Bandung yang memulai kariernya di era 70-an. Meskipun beliau juga menggambar komik silat yang serius, namanya justru meledak ketika ia mulai mengadaptasi tokoh punakawan—Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar—ke dalam setting kehidupan modern yang kocak dan penuh pesan moral.
Dulu, komik ini dijual di abang-abang mainan atau toko buku kecil dengan harga hanya beberapa ratus rupiah. Formatnya yang kecil (seukuran saku) membuat komik ini mudah dibawa dan dikoleksi oleh anak-anak sekolah.
Penyebab Komik Petruk Gareng Karya Tatang S. Begitu Fenomenal
Salah satu daya tarik utama komik Tatang S. adalah genre horor-komedi. Petruk dan Gareng sering kali diceritakan bertemu dengan hantu-hantu lokal seperti Pocong, Kuntilanak, hingga hantu-hantu “kreatif” ciptaan Tatang sendiri. Visual hantunya mungkin sederhana, tapi cukup membuat anak-anak masa itu merinding sekaligus tertawa.

Di balik banyolan konyolnya, Tatang S. sering menyelipkan kritik sosial. Ia memotret kemiskinan, gaya hidup pamer, hingga masalah judi (seperti kode buntut yang tren kala itu). Tokoh Petruk sering digambarkan sebagai orang kecil yang jujur namun sering bernasib sial.
Biasanya, petualangan dimulai dari desa Tumaritis. Petruk dan Gareng yang sedang menganggur atau mencari peruntungan biasanya akan terjerumus ke dalam masalah, entah karena keserakahan mereka sendiri atau gangguan makhluk halus, sebelum akhirnya dinasehati oleh Semar.
Ciri khas dari komik ini selalu mencantumkan potret diri Tatang S. di halaman depan atau belakang komik yang selalu menyertakan tulisan: “Salam Sayang, Tatang S.”
Meski Tatang S. telah wafat pada tahun 2003 lalu, warisannya tidak hilang. Di media sosial, banyak akun nostalgia yang mengunggah potongan panel komiknya. Bahkan, gaya bercerita dan humor Tatang S. dianggap sebagai cikal bakal “meme” lokal di Indonesia.
Karya Tatang S. membuktikan bahwa untuk menjadi legenda, seorang seniman tidak selalu butuh kertas mewah atau teknologi tinggi. Cukup dengan cerita yang dekat dengan keseharian rakyat dan kejujuran dalam berkarya.











Discussion about this post