Jauh sebelum drama Korea dan drama China jadi tontonan favorit di jaman sekarang , generasi yang tumbuh di tahun 80-an lebih dulu mengenal drama Jepang (Dorama)
Di tengah keterbatasan pilihan kanal televisi yang kala, ada satu sosok yang berhasil menyatukan jutaan keluarga di depan layar kaca: seorang wanita kecil yang gigih bernama Oshin.
Serial ini bukan sekadar tontonan, melainkan fenomena sosial yang mengajarkan tentang ketabahan, kerja keras, dan arti sebuah perjuangan hidup. Mari kita telusuri kembali mengapa Oshin menjadi salah satu serial paling berpengaruh dalam sejarah pertelevisian Indonesia.
Sukses di Jepang, Tayang di TVRI
Oshin pertama kali ditayangkan di Jepang oleh NHK pada tahun 1983, menceritakan tentang perjalanan hidup Shin Tanokura (Oshin) dari masa kecilnya yang miskin di era Meiji hingga menjadi pemilik jaringan toko swalayan yang sukses.
Karakter Oshin diperankan oleh tiga aktris berbeda: Ayako Kobayashi (masa kecil), Yuko Tanaka (masa dewasa), dan Nobuko Otowa (masa tua). Di Jepang, Oshin memegang rekor rating tertinggi sepanjang masa untuk drama televisi, mencapai angka 62,9%.

Serial Oshin ditayangkan di Indonesia melalui stasiun TVRI sebanyak 297 episode pada bulan November 1986 dan berakhir sekitar tahun 1989. Ditayangkan setiap hari dari Senin hingga Jumat pada pukul 17.30 WIB . Jadwal ini sangat pas karena merupakan waktu di mana keluarga berkumpul di sore hari.
Di Indonesia, dubbing bahasa Indonesia untuk karakter Oshin kecil begitu membekas di telinga pemirsa begitu juga dengan musik pembukanya yang mengalun lembut dengan irama khas negeri sakura begitu menyayat hati. Oshin menjadi “teman” setia sore hari masyarakat Indonesia, dari kota besar hingga pelosok desa.
Terinspirasi dari Kisah Nyata
Sebagian besar kisah Oshin terinspirasi dari kisah nyata, meskipun ada beberapa elemen fiksi yang ditambahkan untuk mendramatisasi cerita televisi.
Penulis skenario Oshin, Sugako Hashida, mengungkapkan bahwa karakter Oshin didasarkan pada perjuangan hidup seorang wanita bernama Katsu Wada.
Katsu Wada adalah sosok luar biasa yang merupakan ibu dari Kazuo Wada, pendiri sekaligus pimpinan jaringan supermarket raksasa Jepang yang pernah sangat terkenal, yaitu Yaohan.
Sugako Hashida menulis Oshin berdasarkan surat-surat anonim yang ia terima dari banyak wanita Jepang dari generasi Meiji. Surat-surat tersebut menceritakan masa lalu mereka yang kelam, mulai dari dijual oleh keluarga karena kemiskinan hingga perjuangan bertahan hidup di tengah kerasnya zaman.
Kisah Katsu Wada menjadi “tulang punggung” utama yang menyatukan cerita-cerita tersebut menjadi satu karakter bernama Oshin. Nama Oshin berasal dari kata Shinbou yang berarti “Sabar/Tahan Banting”. Penambahan huruf “O” di depan nama adalah bentuk penghormatan atau sapaan akrab di Jepang. Jadi, nama Oshin sendiri secara simbolis berarti “Wanita yang Penuh Kesabaran”.
Kenangan Oshin di TVRI
Serial ini begitu membekas bagi banyak keluarga Indonesia kala itu, karena ceritanya yang mengharukan dan penuh perjuangan dalam bertransformasi dari seorang pembantu menjadi pengusaha sukses.
Tidak hanya sebaggai tontonan, kisah dalam serial ini mengajarkan nilai-nilai seperti menghormati orang tua, kesabaran menghadapi cobaan, dan pengabdian seorang istri. Dan itu semua terasa sangat dekat dengan budaya ketimuran di Indonesia.
Selain itu penayangan Oshin di TVRI menjadi pintu gerbang pengenalan budaya Jepang pada warga Indonesia. Kala itu banyak orang Indonesia mulai mengenal budaya Jepang lebih dalam, mulai dari makanan, pakaian tradisional, hingga etos kerja mereka.
Karena popularitasnya yang luar biasa, Oshin sempat ditayangkan ulang oleh TPI (1992-1993) dan Metro TV (2004-2006) dengan format pengisian suara (dubbing) yang berbeda.
Sosok Oshin adalah pengingat bahwa tidak ada kesuksesan yang instan. Setiap air mata dan keringat adalah bagian dari proses menuju kesuksesan.












Discussion about this post