Bagi anak-anak yang tumbuh di era 90-an, Permen Karet Yosan bukan sekadar jajanan manis. Ia adalah tiket menuju petualangan mencari “harta karun”. Misi utamanya sederhana: Mengumpulkan huruf-huruf Y-O-S-A-N yang tersembunyi di balik bungkusnya untuk mendapatkan hadiah sepeda atau tas sekolah.
Namun misi sederhana tersebut mulai terasa rumit dan membuat putus asa ketika salah satu huruf dari lima huruf yang harus dikumpulkan tidak pernah didapatkan.
Huruf yang dimaksud adalah huruf “N”. Ini adalah misteri yang menghantui masa kecil kita selama puluhan tahun: Ke mana perginya huruf N? Apakah huruf N itu benar-benar ada, atau hanya taktik marketing belaka? Mari kita bongkar faktanya!

Perburuan Huruf N: Misteri Terbesar Generasi 90-an
Hampir setiap anak zaman dulu pasti punya tumpukan huruf Y, O, S, dan A. Bungkus permen karet dengan huruf tersebut seringkali berakhir menjadi koleksi yang berdebu dan tersimpan lama di laci karena satu huruf terakhir—N—tak kunjung ditemukan!
Saking langkanya, muncul berbagai teori konspirasi di kalangan bocah SD kala itu: mesin pencetak huruf N sedang rusak di pabrik, huruf N hanya dicetak satu buah untuk seluruh Indonesia atau huruf N sengaja tidak diciptakan agar anak-anak terus membeli permennya tanpa perlu memberi hadiah dan teori-teori liar lainnya.
Antara Mitos atau Fakta, Apakah Ada yang Pernah Menemukannya?
Setelah bertahun-tahun dianggap sebagai mitos atau hoax belaka, kebenaran mulai terungkap di era digital. Beberapa tahun terakhir, beberapa orang muncul ke publik dan membuktikan bahwa mereka benar-benar menemukan huruf N.
Salah satu yang paling viral adalah seorang pria bernama Dendy asal Jakarta Selatan yang pada tahun 2019 berhasil mengumpulkan huruf Y-O-S-A-N lengkap dan mendapatkan hadiah sepeda dari PT. Mustika Manis Utama produsen permen karet Yosan.

Seperti dikutip dari Kumparan, penemuan huruf N di bungkus permen karet Yosan ini berawal pada saat ia menemukan iklan permen karet yang sudah sejak SMP tidak ia konsumsi di sebuah platform toko online. Dia membeli dua bungkus yang berisi 60 butir permen.
Lalu Dendy mengirimkannya ke alamat yang tertera di bungkus permen tersebut. Setelah menunggu, kemudian pihak Yosan menghubungi lewat telepon dan menjanjikan akan memproses hadiahnya paling lambat 2 minggu setelahnya. Betul saja. Sebuah sepeda BMX warna biru dikirim ke rumah Dendy.

Pihak perusahaan pun mengonfirmasi bahwa mereka memang mencetak huruf N, namun jumlahnya sangat terbatas setiap tahunnya untuk menjaga eksklusivitas pemenang hadiah. Jadi, ini bukan sekadar taktik palsu, melainkan strategi kelangkaan yang sangat cerdas.
Secara ilmu pemasaran, Yosan berhasil Membangun 3 hal penting yang membuat produk ini memorable yaitu: Loyalitas (Anak-anak akan terus membeli merek yang sama demi rasa penasaran), Word of Mouth (Kelangkaan huruf N menjadi bahan obrolan dari mulut ke mulut, menjadikannya iklan gratis yang bertahan selama puluhan tahun) dan Emotional Branding (Kenangan mencari huruf N menciptakan ikatan emosional yang kuat bagi mereka yang kini sudah dewasa)
Misteri huruf N pada permen Yosan adalah bukti bahwa kebahagiaan anak 90-an terkadang sesederhana harapan di balik bungkus permen karet. Meskipun sekarang kita bisa membeli sepeda sendiri tanpa perlu mengunyah ratusan permen karet, rasa penasaran itu tetap menjadi bagian indah dari sejarah masa kecil kita. (WD)












Discussion about this post