Bagi warga Jawa Barat, khususnya Tasikmalaya, medio 1982 hingga 1983 bukan sekadar catatan kalender biasa. Itulah masa di mana alam menunjukkan kekuatannya melalui peristiwa Gunung Galunggung meletus.
Selama hampir satu tahun, langit Jawa Barat diselimuti abu vulkanik, mengubah siang menjadi malam dan mengukir memori kolektif yang tak terlupakan hingga hari ini.
Letusan besar ini dimulai pada 5 April 1982. Berbeda dengan erupsi gunung api pada umumnya yang berlangsung singkat, Gunung Galunggung menunjukkan aktivitas vulkanik yang persisten selama kurang lebih sembilan bulan hingga awal tahun 1983.
Letusan ini dikategorikan sebagai letusan bertipe Pelean dan Strombolian yang sangat kuat, menghasilkan kolom abu setinggi puluhan kilometer ke angkasa. Suara dentumannya terdengar hingga ke wilayah pesisir Jawa, menciptakan kepanikan massal di tengah masyarakat yang saat itu masih minim akses informasi instan seperti sekarang.
Salah satu dampak paling dahsyat dari letusan ini adalah hujan abu vulkanik yang sangat pekat. Di wilayah Tasikmalaya, Garut, hingga Bandung, sinar matahari tertutup rapat oleh debu. Warga harus menyalakan lampu di siang bolong karena saat itu pada siang hari serasa seperti malam hari.

Peristiwa ini juga menyebabkan lumpuhnya transportasi. Salah satu insiden paling terkenal di dunia penerbangan adalah British Airways Flight 9, yang mesinnya mati total setelah melewati awan abu Galunggung (dikenal sebagai The Jakarta Incident).
Efek lainnya akibat letusan gunung ini adalah mengakibatkan ibuan hektar sawah tertimbun pasir dan abu, menghancurkan ekonomi pertanian lokal saat itu.
Menariknya, di tengah bencana ini, muncul gelombang solidaritas nasional. Media massa saat itu, terutama TVRI, terus mengabarkan kondisi pengungsi. Peristiwa ini juga membekas bagi anak-anak era 80-an yang melihat bagaimana tokoh-tokoh publik ikut serta memberikan dukungan moral bagi para korban di pengungsian.

Bahkan beberapa musisi dan seniman menciptakan lagu yang terinspirasi dari tragedi memilukan ini, seperti lagu “Untuk Kita Renungkan” (Ebiet G. Ade), “Tolong Dengar Tuhan” (Iwan Fals, “Himbauan Galunggung” (Bimbo), “Galunggung Meletus Lagi” (Nasida Ria) dan “Guntur Galunggung” Mang Koko.
Gunung Galunggung Kini
Namun dibalik tragedi yang menyebabkan 4.011 korban jiwa, menghancurkan 114 desa dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi ini menyisakan berkah jangka panjang. Material vulkanik yang dulunya menghancurkan tanaman, kini menjadikan tanah di sekitar Tasikmalaya sangat subur.
Selain itu Pasca letusan, terbentuk kawah raksasa yang kini menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Barat.

Mengenang Gunung Galunggung meletus adalah cara kita menghormati sejarah dan kekuatan alam. Bagi generasi yang mengalaminya, bau belerang dan debu putih di atap rumah adalah pengingat akan ketabahan warga Tasikmalaya dan sekitarnya melewati salah satu ujian alam terbesar di abad ke-20.
Foto: https://volcano.si.edu











Discussion about this post