Siapa sangka, jauh sebelum era PlayStation 5, Nintendo Switch atau mobile gaming menguasai dunia, anak-anak Indonesia di tahun 80-an sudah punya “gadget” paling mutakhir di masanya. Ya, apalagi kalau bukan Game Watch atau yang lebih akrab di telinga kita dengan sebutan Gimbot. Bukan milik sendiri, melainkan main gimbot sewaan di pinggir jalan.
Bagi generasi Baby Boomers akhir atau Gen X, gimbot adalah alternatif mainan yang lebih canggih dari main board game atau kartu seperti ular tangga atau kwartet.
suara tet-tet-tet khas gimbot adalah musik termerdu saat jam istirahat sekolah atau sore hari setelah mengaji. Mari kita putar waktu kembali ke masa di mana kebahagiaan itu sesederhana memencet tombol gimbot!
Fenomena Abang Gimbot Sewaan
Fenomena gimbot sewaan biasanya identik dengan sosok Abang Gimbot atau Mang Gimbot. Dia biasanya mangkal di depan SD atau di gang-gang perumahan dengan kotak kayu berisi deretan konsol genggam warna-warni dengan macam-macam bentuk yang ikonik.
Uniknya, gimbot-gimbot ini tidak dibiarkan bebas. Semuanya diikat dengan tali rafia atau benang kasur yang terhubung ke sebuah kotak kayu atau paku. Tujuannya jelas: supaya nggak dibawa lari oleh tangan jahil!
Biaya sewanya sangat ramah di kantong dan cocok untuk anak-anak sekolah, biasanya mulai dari Rp50 hingga Rp100 per sesi. Biasanya permainan dibatasi sampai game over habis 3 nyawa karakter permainan atau menggunakan sesi waktu yang telah ditentukan si Abang Gimbot.
Meski layarnya masih LCD hitam putih dan gerakannya patah-patah, keseruannya nggak kalah dengan game-game zaman sekarang. Beberapa judul legendaris dari Casio dan Nintendo Game & Watch yang jadi favorit dan paling diburu antara lain:
- Western Bar: Game koboi tembak-tembakan piring dan botol. Kalau sudah sampai level bos, rasanya tegang luar biasa!
- Submarine Battle: Menghindari ranjau laut dan menembak kapal selam musuh.
- SL Bankman: Permainan mengatur rel kereta api agar kereta tidak bertabrakan
- Popeye / Mickey Mouse: Game dengan karakter kartun terkenal yang gerakannya terbatas tapi menuntut ketangkasan jari.

Begitu serunya main gimbot kala itu karena ada sensasi “prestise” tersendiri saat kita memegang gimbot di depan teman-teman yang lain. Inilah beberapa alasan mengapa memori ini begitu melekat.
Kita main sambil dikerubungi teman-teman yang ikut bersorak (atau malah bikin konsentrasi pecah), dan itu seperti tantangan karena teknologi game saat itu belum ada fitur save game. Sekali mati, ya harus mulai dari awal. Skor tertinggi adalah harga diri!
Kalau anak zaman now melihat gimbot, mungkin mereka akan bingung. “Kok layarnya nggak berwarna?” atau “Kok nggak bisa mabar online?”. Namun, bagi kita yang merasakannya, gimbot adalah gerbang awal kecintaan kita pada teknologi digital.
Gimbot mengajarkan kita tentang kesabaran saat antre nunggu giliran dan sportivitas menerima kenyataan kalau “game over” atau kalah skor dari teman kita.
Main gimbot sewaan adalah bukti bahwa bahagia itu nggak harus mahal. Cukup uang receh hasil kembalian belanja ibu, kita sudah bisa seru-seruan ngegame di depan sekolah atau di ujung gang.











Discussion about this post