Jika kita bicara tentang musik Indonesia tahun 80-an, ingatan kita mungkin langsung tertuju pada lagu-lagu pop melankolis. Namun, di balik itu, ada satu fenomena unik yang meledak di pasaran: Demam Lagu Jenaka.
Era ini adalah masa di mana lirik yang mengocok perut, sindiran sosial yang halus, dan aransemen musik yang asyik bisa menduduki tangga lagu teratas. Yuk, kita bernostalgia dengan para legenda musik komedi tanah air!
Demam Lagu Jenaka 80’an tidak muncul begitu saja. Fenomena ini dipicu oleh kebutuhan masyarakat akan hiburan yang segar dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan komedi stand-up sekarang, komedian zaman dulu menyampaikan banyolan mereka melalui kaset pita dan stasiun radio.
Berikut ini beberapa grup dan penyayi yang mengkhususkan diri membawakan musik komedi ataupun pernah membawakan lagu dengan lirik jenaka
Warkop DKI, Antara Lagu Parodi dan Film Komedi

Siapa yang tidak kenal dengan grup lawak legendaris Dono, Kasino, dan Indro? Selain lewat film, Warkop DKI sangat sukses dengan kaset-kaset lawak yang diselingi lagu parodi. Lagu seperti “Andeca Andeci” atau parodi lagu Mandarin dan Barat menjadi bukti betapa kreatifnya mereka mengolah musik menjadi komedi.
Lagu-lagu komedi juga sering diselipkan dalam film-film Warkop DKI, diantaranya “Lagu Kode” di Fim “Pintar-Pintar Bodoh” (1980) atau lagu “Aduhai” di Film “Gengsi Dong” (1980) yang dibawakan bersama Elvy Sukaesih.
PMR (Pengantar Minum Racun): Rajanya Dangdut Parodi

Grup PMR dengan vokalisnya, Jhonny Iskanda), adalah ikon utama lagu jenaka bergenre dangdut. Mereka sangat ahli mengubah lagu serius menjadi kocak.
Salah satu hits terbesarnya, “Judul-judulan”, sukses meledak dan bahkan masih sering diputar hingga hari ini. Gaya Jhonny Iskandar yang khas dengan rambut gondrong dan kacamata berantainya menjadi tren tersendiri kala itu.
Pancaran Sinar Petromaks (PSP), Orkes Dangdut Komedi Mahasiswa

Grup Orkes Moral PSP membawa warna berbeda dengan gaya mahasiswa yang cerdas dan kritis. Sama seperti PMR, grup ini membawakn musik beraliran dangdut. Lagu-lagu seperti “Fatime” dan “Malam Jum’at Kliwon” menunjukkan bahwa lagu jenaka bisa dikemas dengan musik orkes dangdut yang rapi namun tetap memancing tawa.
Mereka semakin populer setelah kerap tampil bersama dengan grup Warkop dalam program acara di salah satu sebuah stasiun radio ibu kota, Prambors yang pada saat itu sangat disukai kalangan remaja dan mahasiswa Jakarta
Hetty Koes Endang, Sang Diva yang Bisa Jenaka

Siapa sangka penyanyi sekelas Hetty Koes Endang juga sempat ikut meramaikan tren lagu jenaka? Lewat lagu “Berdiri Bulu Romaku”, Hetty membuktikan bahwa lagu pop bisa tampil lucu dan menggemaskan.
Ekspresi wajah dan pembawaannya yang ceria saat membawakan lagu bertema “takut tapi mau” ini membuatnya menjadi salah satu ikon pop humor yang elegan di mata masyarakat.
Untuk memperkuat unsur komedi, dalam tayangan acara musik Selekta Pop di TVRI, Hetty Koes Endang menggandeng pelawak Otong Lenon sebagai figuran.
Bill & Brod, Madu dan Racun yang Mengguncang Indonesia

Berbicara soal 80-an tak mungkin melewatkan Arie Wibowo bersama grupnya, Bill & Brod. Melalui mega-hits “Madu dan Racun”, mereka menciptakan gelombang baru pop ringan dengan lirik yang lugas dan sedikit nakal.
Kesuksesan lagu ini dan lagu lainnya seperti “Singkong dan Keju” membuktikan bahwa lirik yang memotret kesenjangan sosial atau romansa sederhana dengan balutan humor jauh lebih mudah diterima daripada lirik yang terlalu puitis.
Gombloh, Seniman yang Nasionalis Sekaligus Humoris

Gombloh adalah musisi unik yang berhasil memadukan nasionalisme dengan humor satir. Selain lagu bertema kebangsaan seperti “Kebyar-Kebyar”, Gombloh sangat dicintai karena lagu-lagu jenakanya seperti “Lepen” (Lelucon Pendek), “Apel” atau “Kugadaikan Cintaku” yang melegenda.
Liriknya yang diciptakan penyayi asal Surabaya ini seringkali nyeleneh, menceritakan tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan atau nasib sial, namun dibungkus dengan melodi yang membuat siapa pun ingin ikut berjoget. Gombloh adalah bukti bahwa lagu lucu bisa memiliki kedalaman makna yang luar biasa.
Demam lagu jenaka tahun 80-an membuka jalan bagi grup-grup musik di era setelahnya, seperti P Project di Tahun 90’an, Project Pop dan Teamlo di tahun 2000-an atau bahkan konten kreator musik komedi di YouTube saat ini.
Meskipun zaman telah berubah, selera humor orang Indonesia yang dituangkan dalam nada tetap diminati dan memiliki tempat spesial.
Lagu jenaka 80-an membuktikan bahwa musik tidak harus selalu serius. Kadang, kita hanya butuh sedikit tawa di sela-sela dentuman drum, petikan gitar dan tiupan seruling.










Discussion about this post