Said Didu Sebut Bunga SBN Terlalu Tinggi dan Merugikan Negara, Jubir Sri Mulyani: Jangan Hobi Framing

TEMPO.CO, Jakarta – Surat berharga negara (SBN) bunganya disebut lebih tinggi sekitar dua kali lipat dari bunga utang yang diterbitkan negara lain. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Muhammad Said Didu melalui akun media sosial Twitter miliknya @msaid_didu.

“Bu Menkeu yth, sebaiknya kita jujur saja bhw lakunya SBN utang yg Ibu terbitkan krn bunganya tinggi – sktr 2 kali lipat dari bunga surat utang yg diterbitkan negara lain. Bunga utang yg tinggi tsb ditanggung oleh rakyat dan dinikmati oleh Asing. Kok seakan Ibu bangga?” cuit Said Didu dikutip Sabtu, 29 Juli 2023.

Cuitan Said Didu itu menanggapi berita Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers anggaran pendapatan belanja negara atau APBN Kita. Salah satunya membahas arus modal asing yang masuk ke Indonesia alias capital inflow tembus Rp 105,41 triliun per minggu ketiga Juli. 

Juru Bicara Menteri Keuangan Yustinus Prastowo merespons pernyataan Said Didu itu. “Kalau diajak jujur2an tentu sepakat, Pak Didu. Ini data yg kami punya: Membandingkan dengan peers supaya apel dg apel. Bunga SBN kita masih relatif rendah. Jangan hobi framing hanya menanggung bunga utang, di saat pemanfaatan utang juga produktif untuk kemakmuran rakyat,” kata dia membalas cuitan Said Didu.

Dalam balasan itu, Prastowo juga melengkapinya dengan tampilan gambar dengan judul “Kondisi Pasar Surat Berharga Negara” perbandingan yield peer countries. Menurut dia, jika bicara sejarah, periode 2005-2014 rata-rata yield di angka 9,429 persen (tertinggi pernah 21,107 persen).

Sementara, periode 2015-Mei 2023 rata-rata yield di angka 7,235 persen (tertinggi pernah 9,798 persen). Tentu saja, kata Prastowo, hal itu adalah improvement yang berkesinambungan. “Trennya lebih rendah, demi menekan cost of fund,” cuit Prastowo.

Iklan

Sebelumnya, Sri Mulyani mencatat arus modal asing yang masuk ke Indonesia alias capital inflow tembus Rp 105,41 triliun per minggu ketiga Juli. Angka itu didominasi pembelian SBN secara kumulatif sebesar Rp 86,18 triliun secara Year to Date (TtD).

“Ini artinya Indonesia stabil dan memiliki atraksi dari sisi SBN sehingga Rp 86,18 triliun capital inflow sampai dengan Juni 2023,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita dalam siaran langsung YouTube Kemenkeu RI.

Sementara, arus modal asing yang masuk per Juni mencapai Rp 17,53 triliun, sedangkan inflow hingga minggu ketiga Juli mencapai Rp 1,43 triliun. Kemudian, inflow ke pasar saham sebesar Rp 19,22 triliun YtD.

Di sisi lain, bendahara negara juga mencatat adanya capital outflow alias arus modal keluar senilai Rp 4,38 triliun per Juni 2023. Sri Mulyani menilai, dari sisi local currency, yield SBN terus mengalami perbaikan. “Artinya menurun, sehingga cost of fund bisa kita tekan di tengah The Fed terus menaikkan suku bunga,” tutur Menkeu Sri Mulyani.

Pilihan Editor: Luhut Sebut Digitalisasi Kurangi Korupsi, Kepala Basarnas jadi Tersangka karena Mengakali E-Katalog?



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *