waktudulu.com
  • Kaset Kusut
  • Kotak Mainan
  • Layar Jadul
  • Kertas Tua
  • Barang Kenangan
  • Jejak Peristiwa
  • Ragam
No Result
View All Result
  • Kaset Kusut
  • Kotak Mainan
  • Layar Jadul
  • Kertas Tua
  • Barang Kenangan
  • Jejak Peristiwa
  • Ragam
waktudulu.com
No Result
View All Result
  • Kaset Kusut
  • Kotak Mainan
  • Layar Jadul
  • Kertas Tua
  • Barang Kenangan
  • Jejak Peristiwa
  • Ragam

Arie Hanggara, Tragedi Pilu yang Mengubah Hukum Perlindungan Anak di Indonesia

Januari 30, 2026
in Jejak Peristiwa
Arie Hanggara, Tragedi Pilu yang Mengubah Hukum Perlindungan Anak di Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa dekade telah berlalu, namun nama Arie Hanggara tetap menjadi simbol duka sekaligus pengingat keras bagi para orang tua di Indonesia. Tragedi yang menimpa bocah berusia tujuh tahun ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan titik balik besar dalam sejarah perlindungan anak di tanah air.

Apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1984? Mengapa kisah ini masih relevan untuk dibahas hingga hari ini?

Baca Juga

Sang “Exocet” dari Saparua, Jejak Ellyas Pical Juara Dunia Tinju Pertama Indonesia

Gunung Galunggung Meletus, Jejak Kelam Bencana di Tasikmalaya

Arie Hanggara adalah seorang anak laki-laki yang lahir pada tahun 1977. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam dan penurut. Namun, di balik pintu rumahnya, Arie mengalami penderitaan luar biasa akibat penganiayaan yang dilakukan oleh ayah kandungnya, Machtino, dan ibu tirinya, Santi.

Bocah kelas 1 SD itu dipukuli dengan tangan ayahnya dan gagang sapu karena dituduh mencuri uang di sekolahnya. Puncaknya terjadi pada 8 November 1984, ketika Arie dinyatakan meninggal dunia setelah menerima hukuman fisik yang sangat kejam.

Tragedi ini meledak di media massa dan menyentak nurani publik yang selama ini menganggap urusan rumah tangga adalah ranah pribadi yang tidak boleh dicampuri.

Berdasarkan laporan kepolisian dan persidangan kala itu, Arie sering dihukum karena alasan-alasan sepele. Pada malam maut tersebut, Arie dipaksa untuk Berdiri menghadap tembok selama berjam-jam, Tidak diberikan makan dan minum serta mengalami kekerasan fisik yang mengakibatkan luka dalam yang fatal.

Dalam kejadian tersebut ditemukan tulisan tangan Arie di secarik kertas yang sangat menyentuh hati: “Maafkan Arie, Pa. Arie janji tidak akan nakal lagi.”

Kasus pun bergulir ke meja hijau. Kala itu UU Perlindungan Anak belum lahir. Persidangan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) pada tahun 1985 dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) JR Bangun.

Dalam dakwaaanya, JPU menuntut si ayah dengan hukuman 20 tahun penjara. Sedangkan, Santi, saat itu dituntut ancaman hukuman 15 tahun penjara. 

Setelah beberapa kali persidangan, majelis hakim yang diketuai Reni Reynowati menjatuhkan hukuman kepada Machtino Eddiwan selama 5 tahun penjara dan Santi selama 2 tahun penjara. 

Tragedi Arie Hanggara memicu gelombang protes dan kesadaran nasional. Ada beberapa dampak signifikan yang muncul pasca peristiwa ini di mana sebelum kasus Arie, banyak orang menganggap mendidik anak dengan kekerasan adalah hal yang wajar. Kasus ini membuka mata masyarakat bahwa ada batas tegas antara “mendidik” dan “menganiaya”.

Selain itu kematian Arie menjadi pemicu bagi pemerintah dan aktivis untuk memperkuat regulasi. Hal ini nantinya berujung pada lahirnya Undang-Undang Perlindungan Anak di masa mendatang, guna memastikan negara hadir dalam melindungi hak-hak dasar anak.

Setahun setelah kejadian tepatnya pada tahun 1985, lewat sutradara Frank Rorimpandey tragedi ini diangkat menjadi film berjudul “Arie Hanggara” Film ini dibintangi oleh Deddy Mizwar, Yan Cherry Budiono, Ripan Gunawan, Srirahayu Wulansari, Anissa Sitawati, dan Cok Simbara.

Poster Film Arie Hanggara

Film ini dibuat sebagai media edukasi publik tentang bahaya child abuse dan hingga kini masih sering diputar sebagai pengingat sejarah.

Membicarakan tragedi Arie Hanggara bukan bertujuan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menjaga kewaspadaan. Berdasarkan data KPAI, kasus kekerasan pada anak masih sering terjadi di lingkungan keluarga.

Kisah Arie Hanggara adalah pengingat bahwa suara seorang anak sering kali tidak terdengar jika kita tidak mau mendengarkan. Melalui tragedi ini, Indonesia belajar bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif—mulai dari keluarga, lingkungan tetangga, hingga negara. (WD)

Artikel Menarik Lainnya

Sang “Exocet” dari Saparua, Jejak Ellyas Pical Juara Dunia Tinju Pertama Indonesia

Sang “Exocet” dari Saparua, Jejak Ellyas Pical Juara Dunia Tinju Pertama Indonesia

Januari 29, 2026
gunung galunggung meletus

Gunung Galunggung Meletus, Jejak Kelam Bencana di Tasikmalaya

Februari 5, 2026
Next Post
gunung galunggung meletus

Gunung Galunggung Meletus, Jejak Kelam Bencana di Tasikmalaya

Discussion about this post

Terbaru

7 Februari 1940 – Film Kedua Disney “Pinocchio” Dirilis

7 Februari 1940 – Film Kedua Disney “Pinocchio” Dirilis

Februari 7, 2026
jumpman michael jordan logo

6 Februari 1988: Lahirnya Logo Ikonik “Jumpman” Michael Jordan

Februari 6, 2026
hari lahir christiano ronaldo

5 Februari 1985: Lahirnya Sang megabintang CR7

Februari 5, 2026
Kisah “Oshin” yang Menguras Air Mata Pemirsa TVRI

Kisah “Oshin” yang Menguras Air Mata Pemirsa TVRI

Februari 4, 2026
peluncuran facebook 1 februari 2004

4 Februari 2004: Lahirnya Raksasa Media Sosial Facebook

Februari 4, 2026
waktudulu.com

Situs Nostalgia Terlengkap: Jelajahi kembali kenangan masa lalu melalui artikel tentang musik retro, tren gaya hidup jadul, ulasan mainan dan barang vintage, hingga peristiwa bersejarah. Tempat seru bagi kamu yang rindu masa lalu. "Satu Klik, Beribu Memori"

Jangan Lewatkan!

the beatles

1 Februari 1964: Lagu The Beatles Duduki Peringkat 1 Billboard untuk Pertamakalinya

by WaktuDulu
Februari 1, 2026
0

Tepat pada 1 Februari 1964, lagu hit "I Want to Hold Your Hand" milik band legendaris The Beatles berhasil menduduki...

Manisnya Masa Kecil: 10 Permen Jadul Tahun 80’an

Manisnya Masa Kecil: 10 Permen Jadul Tahun 80’an

by WaktuDulu
Januari 27, 2026
0

Bagi anak-anak yang tumbuh di era 1980-an, kebahagiaan itu sederhana: cukup dengan uang logam 50 perak di tangan dan lari...

Nostalgia: Pelarian Indah dari Realita

Nostalgia: Pelarian Indah dari Realita

by WaktuDulu
Januari 30, 2026
0

Pernahkah Anda tiba-tiba merasa rindu yang mendalam saat mencium aroma buku lama, mendengar lagu pop tahun 70-an, 80-an atau 90-an...

No Result
View All Result
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3

© 2026 - waktudulu.com.