Sebelum dunia musik dikuasai oleh algoritma dan layanan streaming tanpa batas, ada masa di mana mendengarkan musik adalah sebuah perjuangan sekaligus seni. Era itu adalah era kaset. Bagi anak 90-an dan generasi sebelumnya, kaset bukan sekadar media penyimpanan suara, melainkan saksi bisu perjalanan hidup.
Mari kita putar kembali waktu dan mengenang momen-momen manis yang hanya dimengerti oleh penikmat kaset!
Ritual Memutar Pita dengan Pensil atau Pulpen
Ini adalah aktivitas paling diingat. Ketika pita kaset kusut atau keluar dari jalurnya karena tape yang rusak, alat pertolongan pertama bukanlah teknisi, melainkan sebatang pensil atau pulpen.

Memasukkan pensil ke lubang gir kaset dan memutarnya secara manual untuk merapikan pita adalah keterampilan wajib yang harus dimiliki saat itu.
Seni Membuat “Mixtape” (Kompilasi Lagu Pilihan)
Dulu, kita tidak bisa sekadar copy-paste file lagu atau klik link playlist. Membuat kompilasi lagu favorit berarti melakukan rekaman manual. Kita harus menunggu lagu diputar di radio, lalu dengan sigap menekan tombol Record dan Play secara bersamaan. Tantangan terbesarnya? berharap agar penyiar radio tidak bicara di tengah-tengah lagu!
Membalik Kaset Sisi A dan Sisi B
Mendengarkan album musik zaman dulu mengajarkan kita tentang kesabaran. Setelah sekitar 30 menit mendengarkan lagu-lagu di Side A, musik akan berhenti. Kita harus secara fisik mengeluarkan kaset, membaliknya ke Side B, dan memasukkannya kembali. Momen transisi ini memberikan jeda yang unik untuk benar-benar meresapi sebuah album.
Membaca “Thank to” dan Lirik di Sampul Kaset
Membeli kaset asli adalah sebuah kepuasan. Hal pertama yang dilakukan setelah membuka plastik segel adalah membentangkan kertas sampulnya yang panjang. Kita akan membaca lirik lagu satu per satu, melihat foto musisi, hingga membaca daftar ucapan terima kasih (thanks to) yang seringkali sangat panjang.
“Walkman” Simbol Gaul Pada Zamannya
Memiliki Walkman (pemutar kaset portabel) adalah puncak gaya hidup anak muda 90-an. Berjalan dengan headphone di telinga dan kaset yang berputar di pinggang membuat siapa saja merasa seperti bintang video klip. Pemutar musik buatana Sony ini adalah cikal bakal cara kita menikmati musik secara privat di ruang publik.
Memperbaiki Pita Putus dengan Isolasi
Jika kaset favorit putus, itu adalah “tragedi nasional”. Namun, anak zaman dulu sangat kreatif. Dengan sedikit operasi menggunakan isolasi bening dan gunting kecil, pita yang putus disambung kembali. Hasilnya? Memang ada bagian lagu yang terlompat sedikit, tapi setidaknya kaset itu bisa diputar lagi.
Kebanggan Memajang Koleksi Kaset di Rak
Sebelum foto album musik diunggah ke media sosial, ada sebuah tradisi pamer koleksi yang lebih personal dan artistik: rak kaset. Bagi para penggemar musik sejati, menata koleksi kaset di sebuah rak khusus bukanlah sekadar menyimpan, melainkan sebuah kebanggan dan apresiasi kepada karya musisi yang mereka gemari.
Meskipun teknologi digital menawarkan kemudahan, kaset pita menawarkan koneksi emosional. Ada usaha di setiap lagu yang kita dengar. Bau plastik kaset baru dan bunyi klik saat tombol Play ditekan adalah sensasi sensorik yang tidak bisa diberikan oleh layar sentuh.
kaset pita bukan hanya soal media penyimpan dan pemutar suara, pada setiap putaran bukan hanya musik yang mengalun, tapi juga potongan-potongan kenangan manis pada masanya.













Discussion about this post